the right question

Percayakah kalo salah satu penggerak terbesar hidup yang ada di diri kita itu berawal dari pertanyaan?

Pertanyaan apa? Hmm,, ya apapun yang ditanyakan dalam hidup sehingga menggerakkan kita maju ke depan atau justru bergerak mundur ke belakang.

Tulisan ini merupakan hasil renungan aku membaca salah satu buku best sellernya Anthony Robbins. Dalam salah satu chapternya ialah membahas soal pertanyaan adalah jawaban. Setiap pertanyaan yang muncul daalam benak kita sebenarnya representasi dari apa yang kita rasakan dari realitas yang kita alami. Ingat, bahwa setiap apa yang kita alami itu buah dari pemaknaan. Sehingga rasa yang muncul itu sebenarnya sangat subyektif, karena tergantung dari hasil kita memberi makna dari sebuah kejadian.

Namun apakah mempertanyakan suatu kejadian saja cukup membuat kita bergerak maju? Tentu saja tidak. Banyak orang (termasuk aku sendiri) terkadang salah bertanya terhadap suatu kejadian. Efeknya apa? dengan mempertanyakan hal yang semestinya tidak perlu ditanyakan justru membuat semakin down dan menambah masalah baru.

Seperti contoh realnya ialah ketika baru saja mengalami kejadian yang apes, maka di benak secara otomatis muncul pertanyaan “Kenapa sih jadi begini? Kenapa mesti aku, bukan orang lain?, dsb”. Mungkin secara tidak langsung pertanyaan tersebut wajar, tapi secara mental ketika pertanyaan tersebut ditanyakan terus menerus malah membuat kita tidak fokus pada penyelesaian persoalan, tapi justru fokus mempertanyaakan persoalan itu sendiri. Jadi secara tidak langsung kita sudah membuang-buang energi untuk mempertannyakan sesuatu yang telah terjadi, tapi lupa untuk bertanya pada diri maupun orang lain agar supaya kejadian tersebut tidak terulang kembali.

Banyak bertanya, tapi pertanyaannya tidak pas itu juga menjadi suatu masalah. Seperti salah satunya dialami oleh meraka yang insom. Secara fisik mereka lelah dan ingin istirahat, namun secara pikiran mereka tetap aktif karena dalam benak mereka ada satu pertanyaan atau bahkan lebih yang belum ketemu jawabannya satupun.

Selain itu, efek dari kekeliruan dalam banyak bertanya yang justru memperburuk kondisi ialah mempertanyakan yang jawabannya justru membuat kita semakin down. Hal ini beberapa kali aku temui dari kasus relationship. Seseorang yang diselingkuhi akan terus fokus bertanya pada kejadian perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangannya, tapi mereka lupa mempertanyakan apa yang menyebabkan perselingkuhan tersebut terjadi dan bagaimana agar kedepan tidak terjadi lagi.

Nah dari sini terlihat bahwa banyak bertanya itu memang mencerminkan rasa keinginantahuan kita, namun jika cara bertanyanya keliru tentu ini akan berpengaruh pada jawaban yang kita dapat dan berdampak pada psikis.

Dalam bukunya, Anthony Robbins memberikan beberapa tips dalam membuat pertanyaan yang produktif. Diantaranya yaitu,
1. Apa yang membuat hidup saya bahagia sekarang? Bagaimana ia bisa membentuk perasaan saya?
2. Apa yang membuat saya paling bergairah dalam hidup saya sekarang ?
3. Apa yang paling saya syukuri dalam hidup saya dalam ini?

Tentu tulisan ini bukan maksud menggurui ya guys, dengan aku menulis ini juga membuat aku belajar kembali bahwa membangun suatu pertanyaan itu perlu hati-hati. Karena ketika salah membuat pertanyaan tentu akan berpengaruh pada kondisi pikiran dan perasaan.

Have a nice day!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.