Tugas Pelayanan Itu Yang Utama

Tak terasa ternyata udah hampir satu minggu aku pindah praktek dari RSJ ke RSU. Seneng rasanya karena ini pertanda masa praktek sudah mau habis, hehe. Tapi, dibalik rasa seneng itu terselip rasa gundah yang cukup mengganjal hati. Kegundahan itu adalah aku harus lebih teliti lagi untuk mencari kasus yang lebih spesifik lagi. Huwaaaa…..

By the way, di tahap terakhir praktek ini aku beruntung banget karena disandingkan dengan Suster Stella. Oh ya, suster yang aku maksud bukan perawat lho tapi suter seorang biarawati. Suster Stella itu beda dengan suster lain yang terkesan (maaf) galak dan agak cerewet hehehe. Suster Stella itu orangnya gaul dan bisa ngeblend banget sama anak-anak muda yang umurnya jauh dibawahnya. Selain itu, Suster yang pembawaanya sangat hangat sering kali bisa merubah suasana tegang menjadi lebih tenang.

Selain Suster tipikal orang yang unik, menurutku suster juga mempermudahku dalam menjalani praktek di RSU. Secara tidak langsung dengan bahasa tubuhnya, Suster mengajarkanku dalam mendekati pasien mengutamakan pelayanan daripada untuk tugas. Maksudnya, sisi empati yang ditunjukan ketika menganggap apa yang dilakukan adalah sebagai tugas pelayanan akan berbeda bila hanya sebagai untuk sebatas untuk memenuhi tugas praktek.

Dari “mindset pelayanan” tersebut, ternyata memberikan efek memudahkan pada pengerjaan tugas praktek. Aku yang awalnya kikuk ketika ingin mengetuk pintu kamar pasien, kini aku mulai bisa santai dan lebih tenang, karena aku menganggap bahwa aku sedang “memberikan” pelayanan pendampingan bukan untuk “mendapatkan” bahan tugas laporan. Cara pendekatan dengan pasien pun juga akan lebih halus dan lebih mengalir, sehingga pasien akan cenderung lebih nyaman ketika diajak ngobrol.

Tantangan yang aku hadapi saat praktek RSU juga terkait pada pemilihan kasus yang lebih spesifik. Sebagai calon psikolog, aku membutuhkan keterampilan untuk lebih jeli membidik permasalahan psikologis yang menimbulkan permasalahan fisik. Pasien RSU memang banyak, tapi yang memenuhi kriteria sangatlah sedikit. Jadi begitulah, butuh kesabaran dalam mencari kasus.

Terkadang, aku menjadi lebih sering mengobrol dengan keluarga pasien yang kasusnya tidak masuk kriteriaku. Maksudnya, walaupun si pasien tidak masuk list pencarianku tapi aku tetap memberikan pelayanan pada pasien dan keluarganya. Karena dalam pendampingan pasien itu sebenernya tidak memandang kriteria kasus, yang penting adalah terlihat bahwa si pasien dan keluarga memang sedang membutuhkan pendampingan secara psikologis.

Selain itu praktek S2 dibarengi sama praktek S1 yang bikin usaha untuk tetap tegar lebih kuat lagi wkwkwkw. Karena terjadilah perebutan pasien antara senior dan yunior. Hal yang bikin rada kesel adalah ketika aku sedang proses menjalani rapport dengan pasien, eh tiba-tiba pada nylonong masuk dan merusak suasana yang udah aku bangun sedemikian rupa. Ampun dijeeeee!!

Dari semua kejadian itu, memberikan pesan moral bahwa menjadi seorang psikolog ketika sudah terjun itu perlu fleksibilitas yang tinggi. Apapun tantangannya, psikolog itu gak akan kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang timbul. Karna aku yakin, pasti suatu saat nanti ketika aku sudah menjadi psikolog tantangan yang muncul akan lebih daripada ini. Jadi butuh latihan mental mulai saat ini, wkwkwkw.

Dari Suster Stella aku juga belajar bahwa segala sesuatunya perlu dikerjakan dengan hati. Pinter aja gak cukup bila hatimu kering dan tak ada mata air yang bisa menyejukan hati orang lain.

Ecieeeee sadis! 😀

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *