unconditional love

Untuk bisa mencintai seseorang terkadang kita nggak perlu terlalu membutuhkan banyak alasan. Mungkin salah satu dari kalian pernah merasakannya. Inilah unconditional love, cinta tanpa syarat cinta tanpa pamrih. Maka nggak heran ada juga anggapan kalo namanya cinta itu nggak harus memiliki, hehe.

Tapi bagaimanapun, kita setiap manusia boleh mengusakan untuk memiliki seseorang yang kita cintai. Hanya saja butuh ada pengecualian dan ada butuh penyesuaian bahwa ketika kita sudah memasukan cinta dalam suatu hubungan maka tetap ada syarat dan ketentuan berlaku.

Kenapa bisa begitu? Sebab dalam membangun relasi yang sehat, cinta aja nggak cukup. yang mana tetep butuh ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Kita dan pasangan adalah individu yang berbeda yang memiliki latar belakang berbeda sehingga berpengaruh pada cara pikir, persepsi serta beliefs yang selama ini diyakini. Oleh karena itu butuh ada penyesuaian, butuh ada negosiasi, butuh ada rekonsiliasi, dan syrat-syarat lain yang “seakan-akan” keliatan jadi rumit.

Padahal, kerumitan-kerumitan itu muncul ketika kita masih bertahan dengan “ego” kita yang enggan menerima adanya penyesuaian. Kaca mata yang digunakan masih menggunakan cinta itu tak bersyarat dalam hubungan. Padahal, ini adalah dua hal yang berbeda. Pasti kalian yang sudah dalam suatu relasi kadang merasa jengkel “kenapa sih mesti aku yang berubah? Kenapa nggak kamu aja?” Atau bisa juga gini, “Aku sudah berubah untuk jadi lebih baik, tapi kenapa kamu terus bertahan?”

Nah.. hal-hal begitu tuh yang kadang bikin hubungan jadi macet dan mandeg, ujung-ujungnya akan cari kesalahan masing-masing dan melemparkan tanggung jawab untuk berubah satu sama lain. Padahal kan tanggung jawab untuk bisa berubah jadi baik itu kan tanggung jawab personal.

Oh ya, jangan terus berpikir kalo yang namanya perubahan itu sesuatu yang melenceng ya. Misalnya dia awalnya baik terus jadi gampang marah-marah. Bukan begitu maksudnya. Perubahan itu bisa dari perubahan pola pikir, perubahan cara pandang, dsb. Sebenarnya jika perubahan dimaknai dengan lebih baik maka ini bisa menjadi suatu pijakan yang baik untuk peningkatan kualitas hubungan.

Semua orang pasti punya plus minusnya. Baik kita dan pasangan punya sisi disabilitasnya masing-masing , hanya saja bentuknya berbeda-beda dan keliatan atau enggak (invisible disability). Yaah namanya juga orang nggak ada yang sempurna. Maka nggak usah terlalu berekpektasi pasangan harus ini harus itu kalau hanya merasa harus terlihat wah di mata orang lain. Itu malah jadi bikin capek sendiri..  Dalam membangun hubungan yang sehat kita hanya butuh penyesuaian terus menerus. Bagaimanapun, sedekat-dekatnya kita dengan pasangan, dia masih manusia yang tentunya bisa berubah. Balik lagi ke point perubahan itu ya gaes.

Tak perlu berusaha melengkapi kekurangan pasangan karena itu hanya akan menguras energi. Lebih baik sama-sama mengeksplore kelebihan masing-masing dan mengkolaborasikannya satu sama lain.

Balik lagi, cintailah dengan sederhana agar hubunganmu lebih berwarna.

SHARE
Previous articleMenyederhanakan Sakit Hati
Next articleGimana sih caranya membangun hubungan yang sehat?
Avatar
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.