Personal responsibility atau tanggung jawab personal adalah suatu keyakinan bahwa manusia punya kemampuan untuk memilih dan mengendalikan tindakannya dan takdirnya. Agak terkesan seperti sombong ya, tapi bukan itu maksudnya. Kita sadar bahwa ada hal-hal yang tak bisa kita kendalikan, akan tetapi banyak yang menggunakan alasan tersebut untuk tidak mengambil tindakan karena bukan tidak memiliki pilihan, namun takut akan risiko yang akan menyertai.

Ternyata hal ini sangat berpengaruh pada kesehatan mental kita lho, yaitu menolak mengambil tanggung jawab personal dalam hidup juga bisa menimbulkan suatu konflik batin.

Hidup sebagai manusia tentu saja kita tak akan pernah lepas dari yang namanya konflik. Sejak kita lahir saja kita sebenarnya sudah mengalami konflik, di satu sisi kita masih nyaman berada di rahim ibu, namun disisi lain kita sudah waktunya untuk mengaktifkan paru-paru dan menghirup udah yang kadang membuat kita merasa sesak. Dari serangkaian konflik yang ada, tentu kita dibekali dengan kemampuan dasar untuk bisa mempertahankan diri dan beradaptasi. Akan tetapi, kemampuan dasar itu hanyalah sebagai bekal awal dan bukan satu-satunya yang bisa jadi pegangan. Itulah mengapa kita butuh terus mengasah ketrampilan tersebut hingga kita bisa menjadi pribadi yang bisa beradaptasi di segala kondisi.

Kita sering tak sadar bahwa kita punya sumber daya yang tak ternilai harganya yang bisa membantu kita untuk bisa melalui segala tekanan hidup, yaitu otak. Dalam otak kita memproduksi berbagai macam hormon. Sebagian hormon tersebut dapat mempengaruhi kondisi emosi kita seperti bahagia, sedih, marah, antusias, dsb. Bahan kimia otak yang membuat kita bahagia seperti dopamin, serotonin, oksitosis dan endorfin berevolusi untuk melakukan menghargai setiap perilaku bertahan hidup. Mereka bermetabolisme dengan cepat sehingga untuk bisa mendapatkan lebih maka kita juga perlu berusaha lebih. Dalam kondisi alami, tindakan terus menerus diperlukan untuk bertahan hidup dan happy chemical menghadiahi tindakan tersebut.

Sayangnya, kita lebih sering bergantung pada orang lain untuk bisa membuat kita menjadi bahagia daripada mengupayakannya sendiri. Padahal Tuhan sudah memberikan kita bekal untuk bisa melakukannya sendiri. Tentu dengan pemahaman demikian sadar nggak sadar kita sudah merusak mekanisme kebahagian dalam diri kita.

Selain itu dalam pendekatan eksistensialisme mengatakan bahwa keberadaan mendahului esensi, yang artinya bahwa seseorang adalah individu terlebih dahulu, nah loh bingung nggak tuh wkwkwkw. Jadi sederhannya, seseorang itu eksis dan punya nilai (esensi) atas dasar dari apa yang menjadi pilihannya sendiri. Berbeda dengan kebanyakan aliran pemikiran filosofis lainnya, yang mengatakan bahwa hakikat suatu benda lebih penting daripada keberadaannya, eksistensialisme mengatakan bahwa seseorang menciptakan nilai-nilainya sendiri. Seseorang bisa memutuskan siapa mereka, apa nilai-nilai mereka, memilih peran apa yang mereka jalankan di dunia, serta bertindak sesuai dengan pilihan.

Bisa dikatakan dalam situasi apapun kita selalu punya pilihan. Misalkan, ada seseorang mengarahkan sebuah pisau ke lehermu dan menyuruh untuk mengakui sesuatu yang sebenarnya tak kamu lakukan, jika tidak dia akan menggorok lehermu. Tentu dalam situasi itu pilihannya ada dua, kamu mengikuti keinginannya atau menolaknya. Dengan pendekatan eksistensialisme, apakah kamu dipaksa untuk mengakui sesuatu? Jawabannya jelas tidak. Sebab kamu selalu punya pilihan bebas untuk mengatakan tidak, sebab dia tidak bisa membuatmu melakukan apa pun yang tidak ingin kamu lakukan. Mungkin ini bukan keputusan yang akan dibuat kebanyakan orang, tetapi kenyataannya tetap saja ini adalah keputusan yang selalu memungkinkan. Contoh ini ekstreem ya hehehe, tapi dalam situasi ekstrim sekalipun kita tetep punya pilihan.

Nah kalo dikaitkan dengan kehidupan kita gimana? Sebenarnya dengan kita punya pilihan atas setiap kondisi kita akan terbebas dari yang namanya mentalitas korban yang membuat kita selalu berada di posisi yang tertindas, pasif, pasrah dan tak bisa apa-apa. Sehingga ketika ada kondisi yang tak membuat kita nyaman maka kita akan lebih memilih untuk mengevaluasi diri kita sendiri dulu, daripada menyalahkan orang lain atau lingkungan. Baru setelah kita tau apa yang terjadi diri kita secara internal langkah selanjutnya ialah dengan take action untuk eksternal.

Betapapun tidak menyenangkannya, kita selalu punya pilihan. Jadi.. sudah siapkah kamu mengambil tanggung jawab penuh dalam hidupmu? 🙂

SHARE
Previous articleManusia In[s]tan
Next articleMenghadapi Pasangan PASIF AGRESIF
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.