Dari kecil banyak dari kita yang diajarkan bahwa salah benar, hitam putih dan baik buruk. Segalanya serba terpolarisasi, kalo nggak ekstrim kanan ya ekstrim kiri. Hal itu nggak hanya diajarkan dari lingkungan terkecil seperti keluarga, tapi juga di sekolah hingga perguruan tinggi. Contohnya gampang, ketika kita dapet nilai jelek di sekolah ya berarti kita bego, kalo kita dapet IPK dibawah 3,0 berarti masa depan kita diproyeksikan akan suram. Sadar nggak sih, judgment kaya begini berasal dari pola pikir yang polarisasi? Itulah kenapa kita juga nggak sadar kalo kita selalu butuh yang namanya kepastian. Ibaratnya, cari yang pasti-pasti aja lah!

Hal ini nggak cuma kebanyakan orang di luar sana, tapi aku juga sempat dan mungkin sampai saat ini masih mengalaminya. Besar di lingkungan “pegawai” membentukku menjadi pribadi yang selalu mencari yang namanya kepastian. Kalo di luaran udah keliatan nggak pasti ya otomatis nggak ambil tindakan, sehingga nggak heran aku jadi orang tipikal cari aman. Padahal namanya hidup itu nggak ada yang namanya kepastian. Sepasti-pastinya keadaan pasti ada kondisi yang nggak terduga terjadi dan membuat kita butuh berpikir cepat.

Sayangnya, lifeskill itu nggak aku latih dari aku kecil. Aku menjadi orang yang kaku dan takut untuk ambil tindakan. Yang ada dipikiran ketika ingin mencoba hal baru adalah “nanti kalo salah gimana?”, “Nanti kalo jadi malu-maluin gimana?” dan segala pertimbangan-pertimbangan yang mestinya nggak perlu dipikirin di awal.

Hingga suatu momen aku mesti mengambil sikap dalam hidupku. Suka tidak suka, mau tidak mau atas tindakan yang aku ambil aku akhirnya memasuki ruang yang namanya ruang ketidakpastian. Memasuki ruang yang selama ini aku hindari cukup membuat jiwaku bergetar. Tapi perlahan-lahan aku mulai menyadari bahwa ya ketidakpastian itu adalah kepastian itu sendiri. Bodoh rasanya ketika terus mendambakan kepastian, padahal kita sebagai manusia dibekali akal untuk bisa menjadi pribadi yang fleksibel dan adaptif dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Hidup memang kadang nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tapi selama kita masih diberi kesempatan untuk tetap bisa hidup, maka tak ada alasan untuk menghindari yang namanya ketidakpastian. Selamat datang di dunia nyata, kawan 🙂

 

 

 

SHARE
Previous articleYuni Temani Anak Nonton Film Porno Sebagai Seks Edukasi
Next articleKehamilan Pertama
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.