Rasa-rasanya baru kemarin aku melahirkan, eh nggak kerasa anakku udah berusia 2 bulan hehe. Aku menuliskan pengalaman ini bukan mau gimana-gimana, hanya ingin sharing pengalaman dan siapa tahu bisa memberikan gambaran pada mereka yang mungkin sedang berada di posisiku dulu.

Kenapa aku bisa positif covid kalian bisa baca di postinganku sebelumnya dengan judul “hari kelahiran”. Di tulisan kali ini aku ingin sharing soal pengalaman menjalani operasi Sectio Caesar atau SC. Sebenarnya ini tidak asing bagiku, karena aku juga lahir dari proses SC. Saat masih kecil dulu, mamahku selalu menunjukkan luka bekas operasinya padaku sebagai cara agar aku nurut padanya. Sebab katanya, untuk bisa melahirkanku perutnya harus disobek-sobek dan rasanya sakit hehe.

Jadi, saat aku akhirnya memutuskan mengambil tindakan SC aku berusaha setenang mungkin. Dengan kondisiku saat itu, aku tidak merasakan kontrasi dan tidak harus ngeden kesakitan. Tapi perjuangan dimulai pasca operasi sesaat efek obat bius berangsung menghilang. Aku juga tidak terlalu khawatir dengan proses penyuntikan anastesi yang ada di punggung yang banyak orang mengatakan rasanya sakit, sebab sebelumnya aku pernah merasakannya saat operasi ambeiene saat SMA dulu.

Aku masuk RS di tanggal 20 Februari 2022. Dari rumah kira-kira sekitar pukul 13.00 wib dan baru dapat kamar sekitar pukul 19.00 wib. Wkwk lama ya… ya begitulah proses di rumah sakit. Aku sempat masuk IGD khusus covid bersama dengan mereka yang menggunakan alat bantu pernapasan. Untungnya aku diberikan ruangan sendiri, tapi tetap saja suara alat-alat medis membuatku merinding dan beberapa kali memikirkan soal kematian hehe. Beruntungnya aku tak perlu menunggu dalam waktu lama, hingga akhirnya aku mendapatkan kamar untukku bisa mandi air hangat dan menyantap makanan malam.

Rencana operasi dilakukan tgl 21/02 pukul 13.00. Aku sudah diminta puasa mulai pukul 07.00 pagi. Saat menunggu waktu operasi aku hanya bisa berdoa, ngobrol sama suami, dan dokumentasi seadanya. Bagaimanapun ini momen yang tak akan terulang, pikirku saat itu. Jadi aku usahakan mengambil beberapa cepretan foto sebagai bahan postingan hehe. Intinya sih aku berusaha tenang dan terus berkomunikasi dengan janinku. Hal yang paling tidak aku suka pada proses persiapan operasi adalah pemasangan infus. Kenapa? karena pembuluh darahku yang tipis membuat suster kesulitan menembus pembuluh darah secara presisi. Dampaknya kulitku harus merasakan beberapa kali ditusuk, bahkan sampai harus pindah ke tangan satunya. Dan itu proses yang sangat amat tidak mengenakkan.

Setelah proses pemasangan infus aku hanya menunggu sampai dijemput suster untuk ke ruang operasi. Tentu saja perasaanku mulai dagdigdug serrr. Aku hanya bisa dzikir dan berdoa sebisaku hehe. Singkat cerita, suster datang membawa kursi roda untuk mengantarku ke ruang operasi. Saat itu waktu berjalan dengan sangat cepat. Karena kondisi khusus maka dilakukan di ruang khusus pula. Saat itu di bayanganku adalah di ruang yang sangat tertutup, tapi ternyata tidak begitu. Aku melihat seperti ruang operasi darurat yang memang dipersiapkan karena kondisi khusus yaitu untuk pasien positif covid. Sesampainya di ruang pra oprasi, aku harus menunggu sekitar 15 menit karena ruang operasi masih dibersihkan dan dipersiapkan untuk operasiku. Dokter dan perawat menggunakan hazmat, jadi aku tidak tau mana yang dokter mana suster. Karena semua terasa sangat cepat jadi aku seperti agak merasa khawatir, sebab kondisinya tidak seperti operasi-operasiku yang sebelumnya yang berjalan terasa lebih lambat dan tenang.

Dengan segala sesuatunya terasa serba cepat, aku agak terdistraksi dengan proses operasi. Aku jadi tidak fokus pada proses operasi karena memang tidak terasa walau aku benar-benar sadar sepenuhnya. Dokter Dewi tetap memberi aba-aba jika operasi sudah dimulai dan saat anakku lahirpun dokter dewi memberikan selamat. Saat itu aku benar-benar tidak merasakan apa-apa. Aku hanya melihat dokter dan perawat yang berusaha mendorong perutku agar memudahkan anakku keluar dari bagian bawah perutku. Setelah itu aku mendengar teriakan suara bayi yang khas dan seketika air mataku meleleh. Tak beberapa lama, aku diperlihatkan kondisi anakku dan aku juga sempat melihat lirikan mata anakku. Dan sampai saat ini masih melekat di benakku. Setelah aku diperlihatkan anakku oleh dokter anak, setengah jam kemudian aku hanya berbaring sambil menunggu dokter menyelesaikan sulaman jahitan di perutku. Beruntungnya, aku tidak bisa melihat proses jahit menjahit dari pantulan lampu operasi. Sebab ada temanku yang bisa melihat dengan jelas bagaimana perutnya disayat dari pantulan kaca / sejenis logam di lampu operasi.

Setelah selesai semua proses operasi, aku di antarkan lagi ke ruangan. Sesampainya di ruangan aku langsung makan pisang dan menyantap makan siang yang telah disiapkan. Rasanya haus dan lapar. Karena kateter masih terpasang jadi aku tak risau saat aku ingin buang air dan saat itu juga masih belum terasa aku sedang buang air atau tidak hehe. Setelah makan dan minum secukupnya, aku tertidur sampai sekitar pukul 17.00 wib. Oh ya, operasi berjalan sekitar 1 jam, anakku lahir pukul 13.40 wib dan operasi selesai sekitar pukul 14.15 wib.

Aku sempat berpindah ruangan dari kelas 2 ke kelas 1. Saat perpindahan ruang itu rasa sakit sudah mulai terasa. Apalagi saat aku digotong untuk pindah bed, uwoww rasanya sudah terasa. Tapi aku masih bisa menahan dan tak memperlihatkan jika sedang kesakitan. Oh ya karena rencana operasi SC ini mendadak, jadi dokterku tidak bisa melakukan operasi SC dengan metode Eracs yang konon katanya pemulihannya lebih cepat. Ya sudahlah, yang penting bayiku lahir dengan kondisi selamat dan sehat walafiat, itu yang terpenting saat itu.

Dan yaa, fase-fase hilangnya efek anastesi akhirnya datang juga. Selain aku sudah mulai bisa menggerakkan kakiku secara perlahan-lahan, rasa sakit yang tak bisa aku jelaskan mulai aku rasakan dengan sangat intens. Untuk bisa duduk tegak untuk sekedar minum saja aku sudah sangat kesakitan, apalagi suster minta untuk mulai latihan miring kanan dan miring kiri. Mau nangis rasanya tapi juga percuma karena tak membantu sekalipun. Terlebih lagi ketika kateter sudah dilepas sehingga aku sudah harus naik turun bed ketika ingin buang air.

Selama pasca operasi (tanggal 21-24) rasa sakit sepertinya tak pernah hilang. Oh ya, aku sekamar dengan pasien lain yang juga menjalani operasi SC. Bedanya dia menggunakan metode Eracs yang memang pemulihannya lebih cepat. Saat aku aduh-aduh kesakitan untuk bisa duduk, dia sudah bisa jalan ke kemar mandi walau masih pelan-pelan. Melihat itu rasanya makin down, seperti merasa pemulihanku akan memakan waktu yang sangat lama. Di sini aku merasakan perang dengan pikiranku sendiri, antara berusaha untuk menerima realitas bahwa saat itu aku memang sedang merasakan sakit dan berupaya untuk berpikir bahwa kondisi itu hanya sementara. Benar-benar pergolakan batin dan pikiran. Hal yang membuat ini semua makin berat adalah aku tidak bisa bertemu dengan suami dan anakku. Sediiihh banget deh rasanya dan ini bikin aku makin merasa lemah.

Tapi.. bagaimanapun disinilah awal aku berjuang. Berjuang untuk diri sendiri dan juga untuk orang yang aku cintai. Aku akhirnya menerima dan berupaya untuk menikmati segala rasa yang ada saat itu dengan ikhlas. Atau bisa dibilang ya nggak lagi sambat. Walau rasa sakit terus menerus aku rasa tapi aku tetap berusaha untuk menantang diri dengan banyak bergerak. Istilahnya memaksa diri untuk berani menghadapi rasa sakit. Aku berusaha naik turun bed dengan semampuku, duduk di kursi, berjalan seperti robot dan pokoknya perbanyak gerak. Dan ternyata walau situasinya masih sama tapi secara psikologis aku merasakan perbedaannya. Aku merasa lebih berdaya dan merasa bisa melewati segala situasi yang ada. Dari semua proses yang ada sebenernya yang menjengkelkan adalah infus yang terpasang di pergelangan tangan kananku. Tentu saja jika tangan banyak bergerak maka darah akan naik ke selang dan itu bikin repot.

Tak terasa hari kepulangan tiba. Akhirnya aku sudah negatif covid dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja aku senang, karena aku bisa segera bertemu dengan anak dan suamiku. Dengan tenaga yang masih tersisa aku mulai membereskan barang-barang, merapikan rambut dan mengganti pakaian. Saat dijemput di ruangan aku ditawari suster untuk menggunakan kursi roda, tapi aku menolak dan memilih untuk berjalan kaki walau masih seperti gaya robot. Aku berpikir anakku di rumah. Kalau aku manja dengan keadaanku maka bagaimana nanti ketika aku sampai rumah dan merawat anakku? Hanya pikiran itu yang membuatku kuat dan terus berusaha sekuat tenaga.

 

SHARE
Previous articleHari Kelahiran
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.