BIANCA BAGNARELLI

Siapa yang tak sakit ketika mengetahui pasangan yang selama ini kita cintai sepenuh hati ternyata berselingkuh? Benteng kesetiaan yang selama ini berusaha untuk dijaga seketika roboh. Hatipun terasa seperti dihantam sesuatu yang sangat besar namun tak terlihat wujudnya. Terlebih lagi jika pasangan sudah menutupi perselingkuhan selama beberapa tahun tanpa membuat kecurigaan.

Rasa hati ingin pergi dan menghilang sesegera mungkin, tapi apa daya realita tak bisa ditinggalkan. Ada manusia-manusia kecil yang masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang penuh dari keberadaan kita.

Pernahkan anda berada di kondisi demikian? Jika pernah, mungkin anda perlu membaca tulisan ini lebih lanjut untuk membantu meredamkan luka hati pasca perselingkuhan.

Perselingkuhan merupakan sesuatu yang sangat dibenci oleh semua orang. Walau demikian, orang terkadang tak menyadari bahwa apa yang dilakukannya sudah masuk kategori perselingkuhan. Pintu utama perselingkuhan berawal dari perselingkuhan emosional. Tipe selingkuh ini sangat halus sekali, berawal sebagai teman cerita teman mencurahkan hal yang dirasa tak bisa dilakukan terhadap pasangan. Ini tak sekedar celah, namun sudah bagian dari ruang perselingkuhan itu terjadi. Rasa nyaman ketika mendapatkan respon yang sesuai dengan yang diharapkan itu seperti candu. Relasi penuh konflik atau bahkan flat yang dirasa dengan pasangan bisa menjadi penguat mengapa kenyamanan emosional dari orang lain itu sangat dibutuhkan. Jika secara emosional sudah nyaman, maka perselingkuhan bisa berlanjut sampai taraf yang selanjutnya.

Perlu diingat dulu bahwa dalam relasi esklusif segala bentuk pengalihan perhatian pada orang lain sudah masuk dalam kategori selingkuh. Bahkan ketika masih dalam pikiran saja itu sudah termasuk selingkuh, karena ada intensi walau belum kuat. Berbeda dengan casual relationship yang secara tingkat kepemilikan masih sangat longgar dan menurut saya perselingkuhan di jenis relasi ini merupakan konsekuensi yang mesti disadari di awal.

Saya akan membahas lebih detil lagi bagaimana cara untuk move on bagi anda yang mengalami perselingkuhan oleh pasangan dalam relasi pernikahan. Kenapa saya spesifik? Sebab kasus perselingkuhan yang bersepakat untuk tetap bersama sangat jauh berbeda pada mereka yang akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Saya percaya anda dan pasangan pastinya sudah membicarakan soal peristiwa perselingkuhan tersebut dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Walaupun pedih, tapi bagaimanapun itu realita yang mesti di hadapi, dan kenapa penting membutuhkan hati yang terbuka? karena perselingkuhan itu adalah akibat dan bukanlah sebab. Tentu saja ada peran serta dua belah pihak.

Okey, bagi anda yang memutuskan untuk tetap bersama tentu saja butuh effort yang lebih besar. Sebab intensitas pertemuan anda masih sangat sering dan pola-pola relasi yang sebelumnya dijalani juga mungkin tidak berubah. Hal yang membuat semakin sulit move on ialah rasa yang terpendam pada masing-masing. Bagi anda yang diselingkuhi tentu rasa sakit hati, dendam, benci, sedih, dsb tidak bisa langsung diungkapkan begitu saja. Kadang rasa itu timbul, tenggelam seiring dengan situasi dan hal-hal yang mentrigger. Terlebih penyebab perselingkuhannya masih menggantung atau gak jelas.

Begitu juga dengan pasangan yang berselingkuh, mungkin dia tidak berani untuk cerita blak-blakan karena khawatir anda akan semakin sakit hati dan menjauh bahkan langsung meminta berpisah. Dua belah pihak punya dilema masing-masing. Itulah mengapa proses membangun kepercayaan menjadi sangat sulit dan butuh usaha yang sangat kuat. Seakan tetap ada jurang pemisah atau sudah seperti air dan minyak, beriringan tapi tak bisa menyatu.

Jika memang sudah saling sepakat untuk tetap bersama maka berikut ini terdapat beberapa hal yang mesti dilakukan:

Proses Pemaafan

Proses ini identik dilakukan oleh pihak yang diselingkuhi, namun sebenarnya kedua belah pihak punya luka masing-masing yang mungkin selama ini tidak pernah tersampaikan. Walau tak mesti untuk diungkapkan secara langsung, namun intinya kedua belah pihak menyadari bahwa luka yang ditimbulkan satu sama lain mesti diselesaikan. Saran saya sih baiknya untuk diungkapkan, namun kalau dirasa memang tidak perlu ya tidak apa-apa, yang penting ialah belajar untuk saling memaafkan.

Merubah Pola

Memaafkan saja tak cukup tidak ada evaluasi yang berdampak pada perubahan pola relasi yang dijalani. Ada sebab pasti ada akibat, nah disitulah kedua belah pihak saling membicarakan soal ini dengan hati yang tenang dan kepala dingin. Karena jika tidak hati-hati akan menjadi salah fokus untuk mencari siapa yang paling salah dan paling bertanggung jawab. Ingat, kedua belah pihak punya tanggung jawab masing-masing, jadi tidak bisa melemparkan hanya ke satu pihak. Dengan melakukan evaluasi secara mendasar, harapannya agar problem dasar relasionship selama ini mulai terurai. Pasti anda familiar cara yang mudah untuk mengurai benang ruwet? Yaitu dengan cara merendamnya di air maka sendirinya akan terlihat simpul-simpul yang awalnya sudah mati mulai terlihat celah untuk bisa diurai.

Tentu hal utama yang mesti dievaluasi ialah pola komunikasi. Temukan pola komunikasi yang seperti apa yang sering kali membuat dua belah pihak merasa tidak nyaman. Setelah itu, bahas soal value atau prinsip hidup masing-masing. Hal ini penting sebab seringkali value personal menjadi benteng yang membuat problem semakin tak kunjung terselesaikan. Karena bisa jadi selama ini tak pernah ada pembahasan soal value secara mendalam antara masing-masing, sehingga sering merasa tidak nyambung, merasa seperti tidak dimengerti dll.

Komitmen

Komitmen disini bukanlah untuk menekankan tidak selingkuh lagi, tapi lebih fokus pada perubahan pola. Ingat ya, ini bukan hanya untuk pasangan yang berselingkuh, tapi juga untuk anda. Ketika anda menuntut dia berubah tapi tidak dengan anda maka itu akan sama saja. Merubah pola itu butuh komitmen, karena itu sama halnya dengan merubah kebiasaan. Yang butuh waktu dan proses yang tak sebentar. Ada kalanya up and down dalam proses perubahan pola, ya itu sesuatu yang wajar. Yang terpenting ialah sama-sama untuk komit untuk berjalan dan bergandengan menuju satu tujuan yang sama.

Evaluasi

Melupakan proses evaluasi sama saja anda hanya ingin proses yang instan. Tak ada perubahan yang maksimal tanpa adanya evaluasi. Dengan adanya tahap ini maka anda dan pasangan belajar untuk mengosongkan gelas agar tidak merasa paling benar dan paling mengerti. Proses membangun komunikasi kembali

Baca juga: Pasangan Selingkuh, Lanjut atau Tinggalkan?

Proses recovery atau penyembuhan merupakan proses bersama. Jika pasangan memang masih ingin tetap bersama, maka dia juga punya tanggung jawab untuk membersamai anda dalam menjalani proses membangun kepercayaan kembali. Begitu juga sebaliknya, rasa curiga berlebihan merupakan respon dari rasa tidak aman pada pasangan, jika anda memang masih yakin bahwa keputusan untuk bersama adalah tepat perlahan anda tetap belajar untuk mengendalikan perasaan-perasaan dan cocokologi pada pasangan.

Luka batin atas perselingkuhan memang tak membekas secara fisik, namun bisa bersemayam menggerogoti jiwa jika tak segera disembuhkan. Proses kesembuhan adalah proses bersama.

SHARE
Previous articleSaat Kamu Terlalu Sering Masturbasi
Next articleSuami Ejakulasi Dini, tapi Kok Istri Yang Disalahin?
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.