source: freepik

Adakah yang pernah merasa diposisi demikian? Nggak pernah dianggep ada, tapi seketika dibutuhin banget kalau mau diajak tidur aja. Ada? Atau sekarang masih ngalamin?

Mungkin seks menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi kamu dan pacarmu. Mungkin juga diawal seks dilakukan dengan sangat passionate dan kamu mulai merasa bahwa hanya dia yang paling paham bagaimana membuatmu terpuaskan. Namun ketika konflik dalam hubungan mulai bermunculan dan tak kunjung diselesaikan secara tuntas, maka hal ini berdampak pada hubunganmu yang udah mulai renggang, hambar dan sering jadi bersitegang.

Bagaimanapun, seks yang sudah menjadi suatu kebutuhan dasar yang sempat terfasilitasi kadang sulit untuk dihindarkan. Casual seks bukan menjadi pilihan karena beberapa hal, ya karena tak semua orang bisa menjalaninya. Sehingga ketika kebutuhan itu muncul ia akan menghubungimu, bersikap seakan tidak terjadi apa-apa atau semua sudah kembali seperti semula.

Bagaimana perasaanmu? Dibutuhkan hanya sebagai teman tidur semata?

“He want sleep with you, doesn’t mean he love you.”

Kamu sudah merasa hal ini nggak beres. Tapi kamu denial dengan menganggap dia masih sangat membutuhkanmu. Tapi jika dia hanya butuh ragamu bukan jiwamu maka apa bedanya dengan maaf.. pelacur

Berbeda jika memang hubungan tak ada komitmen serius seperti pacaran dan memang pure as fuck buddy atau FWB, or something else yang tak melibatkan perasaan.
Ketika kamu masih berharap dengan kamu memberikan tubuhmu ke dia dan kamu berharap dia akan memberikan cintanya padamu maka ini sama saja kamu sudah menjebak dirimu dalam toxic relationship.

Jangan rusak apa yang kamu miliki dengan harapan semu. Menjadi sangat naif ketika kamu berharap orang lain bisa mencintaimu, tapi kamu sendiri tak melakukannya balik. Seks hanya sekedar seks, dan semua orang bisa melakukannya. Jika dia bosan denganmu, maka dia bisa dengan mudahnya mencari sosok yang menurutnya lebih darimu.

Jadi jangan gunakan seks sebagai nilai tukar untuk mendapatkan cinta.

 

 

 

 

SHARE
Previous articleApa sih Martyr’s Complex?
Next articleMenyederhanakan Sakit Hati
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.