Bagiku tahun 2021 adalah tahun dengan punuh pengharapan. Walaupun banyak orang memprediksi tahun ini sama atau lebih buruk dari tahun sebelumnya, namun bagiku tahun ini tetap saja sesuatu yang harus dimaknai dengan sebaik mungkin. Menjadi seorang psikolog yang kini hampir 100% berpraktik secara online ternyata membuatku menjadi lebih fleksibel. Walau tak bertatapan secara langsung dengan klien-klien, namun aku tetap bisa menjadikan momen ini sebagai pengayaan skill yang mungkin sudah dilakukan beberapa tahun silam di luar. Tapi bagaimanapun hal ini memang masih belum bisa diterima secara terbuka oleh mereka yang merasa tatap muka secara langsung bisa lebih plong selama sesi.

By the way, tahun ini juga aku dan suami akhirnya memutuskan untuk mensistemkan salah satu usaha rintisan yang sudah berjalan hampir enam bulan. Walau tidak dalam ranah psikologi, namun bagiku bidang usaha ini sangat membantuku dalam proses pemulihan psikis di tahun 2020, secara tidak sengaja.

Sebagai pemilik usaha tentu saja logika harus terus berjalan. Disinilah tantangan untuk diriku dimana kala itu rasa ingin dimaklumi sangat besar, rasa seakan tak berdaya sedang muncul, dan segala sisi emosi yang tak memberdayakan.

Dengan berkomitmen untuk mensitemkan usaha ini secara proper tentu saja aku membutuhkan mentor untuk bisa scale up (dalam ranah apapun). Disinilah tantangan baru untukku. Selain mengasah kemampuan dalam hal manajemen bisnis, yang terpenting adalah meningkatkan kemampuan dalam manajemen orang. Walau aku sebagai seorang psikolog, tentu saja ini bukan sesuatu yang mudah. Ada perubahan skema berpikir antara aku sebagai psikolog murni menjadi psikolog yang mempunyai bisnis.

Bisnis bukan sekedar soal bagaimana menghasilkan uang, namun bagiku bisnis adalah media dalam memanjangkan rejeki atau memperbanyak pintu rejeki. Ketika dalam bisnis ada karyawan tentu saja kita sebagai pemilik menjadi pintu rejeki, ketika karyawan sudah naik menjadi pemilik saham dan punya karyawan lain otomatis juga akan menjadi pintu rejeki baru lagi untuk orang lain dan seterusnya. Yah, ini jangka panjang ya.

Dengan aku serius dalam membangun usaha tentu saja akan punya tanggung jawab untuk terus bergerak. Resiko itu pasti akan selalu ada, tapi bagaimana dengan terus bergerak dan belajar kita akan mengasah yang namanya common sense. Bagaimanapun aku masih lemah dalam sisi ini, karena kembali lagi common sense sebagai psikolog murni dan sebagai psikolog yang punya bisnis itu tentu sangat berbeda. Psikolog murni hanya memikirkan soal sisi klien, namun psikolog yang punya bisnis memikirkan lebih banyak elemen lainnya.

Ribet? Tentu aja ribet. Tapi disitulah tantangannya. Makin ribet, makin membuatku untuk tidak berhenti mencari cara agar yang menurutku ribet bisa diterjemahkan menjadi sesuatu yang simple, yang bisa dimengerti orang lain.

Aku banyak mendapat insight seorang pembisnis tulen itu bisa meraba apa yang akan terjadi karena ada kepekaan atau kesadaran-kesadaran yang sebelumnya udah dilatih. Itulah kenapa mereka yang bener2 udah jago bisa bedain mana orang yang manu nipu mana yang nggak, karena selain dari pengalaman tentu aja “sense” mereka terus dilatih sedemikian rupa.

Selain itu, memilih jalan entrepreneurship juga sejalan dengan prinsip kedaulatan hidup. Inilah salah satu prinsip yang tahun lalu aku perjuangkan. Ini bukan soal pilihan A, B atau Z tapi ini soal kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.