Mumpung masih awal-awal tahun, btw udah pada bikin resolusi belum? Hehe.. rasa-rasanya itu yang wajar dilakukan oleh kebanyakan orang. Semangat nyusun ini itu, loyo di perjalanan, mengalir begitu aja mengikuti situasi dan lupa deh dengan resolusi awal tahun yang udah di buat hehe.. Itu buat orang biasa ya.. Semoga buat kamu yang termasuk orang luar biasa tidak demikian adanya.

Jujur saja, aku jarang banget bikin resolusi awal tahun yang gimana banget. Menurutku cukup fokus ke 1 atau 2, ya maksimal 3 goal besar aja. Buatku itu udah banyak, karena punya goal besar otomatis punya serangkaian proses yang perlu dijalani. Nah tantangannya adalah komit menjalani proses struggle. Soal hasil? Ya serahin aja ke Tuhan, yang penting fokus ke prosesnya.

Kali ini aku pengen sharing hasil diskusi bareng mentorku, ceilah haha.. bukan Han Ji Pyeong kok wkwkwk. Jadi awal tahun persis, beruntung banget dapet momen sharing sama belio. Sebenernya ini sebagai penguatku dalam menjalankan bisnis yang baru aku rintis. Ada 3 poin yang belio katakan, yaitu berprasangka baik, berpikir rumit, dan memasuki ruang kesulitan. Hahaha.. nah loh pusing kan! wkwkwk

Jadi aku ceritain satu-satu deh biar nggak bingung.

Hal pertama, berprasangka baik. Sebenernya perkara ini sudah diajarkan di agama yaitu khusnudzon. Walau aku dari kecil sampe sekarang udah sering banget dengerinnya, tapi sumpah secara realita buat ngejalaninnya itu aje gile. Berprasangka baik itu nggak sekedar berpikir positif aja, tapi disitu adalah membangun kepercayaan. Membangun kepercayaan kepada siapa? Terutama ke diri sendiri. Coba deh kalian inget-inget berapa sering berprasangka buruk sama diri sendiri? merasa nggak mampulah, merasa nggak kompeten, merasa nggak siap, dan hal-hal yang mengecilkan diri kita sendiri. Padahal membangun prasangka baik ke diri sendiri itu landasan penting dalam kita membangun kepercayaan pada orang lain. Kalo sama diri sendiri masih sering memandang negatif, otomatis itu juga akan terefleksi pada sikap kita ke orang lain. Itu yang sering kita lupa. Kita banyak diajarkan oleh lingkungan untuk berprasangka baik dulu ke orang lain, tapi lupa sama diri sendiri.

Kedua, berpikir rumit. Hahaha apa lagi iniiii!!!!
Yap, berpikir rumit itu kata lainnya adalah berpikir detil. Orang yang detil itu pasti rumit di pikiran. Namun bagi orang yang cerdas itu bisa membuat kerumitan di pikiran menjadi sesuatu yang simple secara outputnya. Ini masih ada hubungannya dengan yang pertama. Saat prasangka buruk muncul dalam pikiran kita, otomatis kita wajib untuk mengolahnya menjadi suatu prasangka yang baik. Untuk mengolahnya itu tentu aja butuh bolak balikin pikiran, maksudnya ialah kita kaya mesti mendebat pikiran kita sendiri dengan menggunakan berbagai sudut pandang. Seringkali ketika kita dihinggapi prasangka, asumsi, atau persepsi negatif kita langsung telen aja mentah-mentah gitu, padahal ketika kita mau beruhasa untuk melihat dari sudut yang beda pasti maknanya itu juga akan beda. Nah proses mengolahnya itu memang rumit, tapi secara output ketika kita berhasil mengolahnya akan tercermin pada sikap kita yang jadi nggak ribet. Dan kebalikannya, sering kali orang yang pengennya simple nggak mau ribet itu justru secara realitas beneran ribet. Bingung kan? Yah namanya hidup ini memang penuh dengan paradox hahaha.

Terakhir, masuki ruang kesulitan. Buseet kan tuh!
“Gimana kita bisa rela memasuki ruang kesulitan? Kalo hidup kita yang sekarang aja udah sulit?” Nah.. ini pikiran orang rata-rata. Kalo kita mau naik level, maka kita mesti menikmati ruang-ruang kesulitan itu. Kadang sulit asumsi kita itu beda sama realitanya, bisa jadi nih realitanya nggak sulit tapi kita mikirnya udah sulit duluan jadi sulit beneran deh. Memaknai suatu kesulitan itu bukan berarti menderita ya.. kita berpikir detil aja sulit loh. Tapi disini fokusnya adalah melatih otot kita menghadapi segala situasi dan kondisi. Gampangnya, waktu kita SD mungkin kita ngitung kali2an aja susahnya minta ampun, tapi setelah kita SMP atau SMA bahkan kita bisa apal perkalian dan melihat itu sesuatu yang sipirilli. Semakin kita bisa menikmati ruang kesulitan, semakin kita bisa cepet naik kelas. Ini hanya perkara soal keberanian aja benernya. Hehe..

Jadi tahun 2021 ini memang kita butuh punya strategi. Tahun lalu bisalah kita pake mode bertahan karena kita sedang belajar pada situasi dan kondisi yang beda banget, tapi tahun ini sudah waktunya kita pakai mode menyerang. Karena kalo kata suami sih akan ada dua kemungkinan ketika pake mode menyerang, yaitu kita bisa nggeblas atau bertahan. Sedangkan kalo kita dari awal udah pake mode bertahan ya kemungkinan kita tetap mampu bertahan atau jatuh kelelahan.

Buat aku sih kalo ada kemungkinan nggeblas kenapa nggak? hehehe.

 

SHARE
Previous article2020, jalan menempuh kedaulatan
Next articleMemilih Jalan yang Berbeda
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.