forgiveness

Apa Yang Dibutuhkan dalam Proses Memaafkan?

Salah satu cara agar kita memiliki kesehatan mental yang baik ialah dengan memaafkan. Setiap orang saya yakin memiliki jiwa pemaaf dalam hati nuraninya. Akan tetapi banyak sekali dari kita yang masih sulit untuk mengaksesnya. Tentu saja memaafkan itu akan lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan.

Dari sekian banyak teori psikoterapi yang saya pelajari, memaafkan merupakan salah satu terapi yang sangat mujarab. Akan tetapi, dalam prakteknya, banyak sekali usaha memaafkan yang gagal sehingga terapi memaafkan ini tidak instan dan butuh berproses. Hal tersebut tentunya didorong oleh beberapa faktor dan setiap orang memiliki proses memaafkan yang berbeda-beda pula.

Setelah membaca banyak referensi sana sini terkait terapi memaafkan, saya melihat terdapat empat elemen yang cukup efektif dalam melakukan terapi ini, yaitu ekspresi emosi, memahami alasannya, membangun kembali rasa aman, dan melepaskannya. Empat elemen tersebut bukan sebagai acuan langkah-langkah, sehingga dalam praktiknya bisa tidak dilakukan secara linear, namun kebanyakan orang akan melalui proses pertama sampai ketiga terlebih dahulu sampai benar-benar selesai, baru setelahnya lanjut ke proses melepaskan.

Pada kenyataanya, banyak orang yang ingin terburu-buru untuk langsung bisa melepaskan rasa sakit hti tanpa mau melalui aspek-aspek yang sebelumnya. Itulah yang menjadi penyebab mengapa proses memaafkan selalu gagal, sebab ingin terburu-buru dan enggan untuk menikmati setiap prosesnya. Oleh karena itu, saya ingin menjelaskan lebih detil tentang aspek-aspek terapi memaafkan per poinnya.

Ekspresi Emosi

Apapun rasa sakit hati dan ketidakadilan yang anda rasakan, maka anda harus mengekpresikannya secara total. Kejadian yang tidak mengenakkan tersebut pastinya menimbulkan kemarahan, rasa benci, kesedihan, kekecewaan dan semua rasa yang tidak menyenangkan. Dan mau tidak mau semua perasaan tersebut perlu diungkapkan sepenuhnya. Bila anda merasa tidak sanggup untuk mengutarakannya secara langsung, maka ambil kursi kosong kemudian bayangkan orang yang membuat anda tersingung duduk di depan anda, kemudian ungkapkan semua yang anda rasakan terhadap orang tersebut. Bila anda masih belum sanggup membayangkan orang tersebut hadir dihadapan anda, maka anda bisa dengan menuliskan semua yang anda rasakan di secarik kertas. Itulah merupakan beberapa cara dalam mengekspresikan emosi.

Memahami Kondisi

Pernahkah anda menyadari ketika anda mengalami kemarahan yang luar biasa maka beberapa saat kemudian otak anda segera mencari jawaban sampai puas? Ya, sebagaian besar orang akan terus bertanya mengapa ini terjadi. Mungkin anda bisa saja tidak setuju dengan jawaban yang anda dapatkan, tapi setelah alternatif-alternatif jawaban anda dapatkan baik itu bertanya dengan diri sendiri maupun bertanya pada orang lain untuk klarifikasi, maka anda bisa mendapatkan sebuah benang merah dari itu semua. Banyak orang yang terus menyimpan kemarahan hanya berhenti pada pembentukan asumsi oleh diri sendiri, namun bagi mereka yang mau berusaha lebih untuk mendapatkan jawaban dari pihak lain maka cenderung bisa melalui proses pemaafan atas peristiwa tersebut.

Membangun Kembali Rasa Aman

Mengalami peristiwa yang menyakitkan membuat menjadi beberapa kali lipat lebih berjaga dan reaktif. Tentu saja hal ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri agar tidak terlukai lagi. Hal ini wajar untuk beberapa saat, namun akan menjadi permasalahan baru bila tidak segera dinormalkan kembali. Bila mekanisme  pertahanan diri ini terus menerus dikembangkan maka akan membuat anda menjadi mengambil kesimpulan singkat ketika menghadapi peristiwa yang mirip. Kesimpulan tidak matang tersebut berasal dari cara pandang yang menggeneralisir. Oleh sebab itu, bangun kembali rasa aman dalam diri anda. Anda memang pernah mengalami peristiwa yang menyakitkan di masa lalu, namun yakinkan diri anda bahwa anda tidak akan mengalami hal yang sama, sebab anda sudah mengambil pelajaran yang berharga atas peristiwa tersebut. Jangan biarkan rasa tidak aman anda merenggut masa yang akan datang.

Keriga elemen awal ini tentu akan sangat membantu anda dalam proses menuju pemaafan. Setelah anda  mulai mengekspresikan apapun yang anda rasakan, memehami secara logis yang telah anda alami dan membangun kondisi aman kembali, kemudian hal selanjutnya ialah dengan belajar melepaskannya.

Belajar Melepaskan, Mengikhlaskan

Langkah ini jujur saja merupakan langkah yang membutuhkan tenaga ekstra. Melepaskan bukan berarti melupakan. Ingatan atas peristiwa yang tidak menyenangkan itu tetap ada di ingatan anda, dengan melepaskan maka anda merelakan emosi-emosi negatif dalam diri anda pergi. Secara memori peristiwa anda masih mengingatnya, namun secara emosi anda sudah dalam kondisi netral bila anda melepaskan. Saya sangat yakin, setiap orang memiliki kemampuan untuk melepaskan. Namun sayangnya, tidak semua orang mau dan bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Banyak dari mereka yang gagal dalam memaafkan merasa masih tidak rela bila rasa sakit hati yang dialaminya tidak segera terbalaskan. Oleh karenanya mereka akan terjebak pada emosi yang mendorong untuk membalaskan dendam. Hal ini bisa dikarenakan beberapa faktor, bisa karena lingkungan keluarga yang kurang mendukung, pola pikir, budaya dan sebagainya sehingga membutuhkan proses melepaskan yang relatif panjang. Apapun kondisinya, yang perlu disadari bahwa ada mekanisme alam yang bekerja di antara kita. Maka percayalah mekanisme alam tersebut, dengan demikian kita tak merasa terbeban dengan apa yang selama ini terjadi.

Selamat berproses dalam memaafkan 🙂

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.