No Widgets found in the Sidebar
Terbang begitu saja tanpa tau arah

 

“Nanti mau ambil jurusan apa?”
“Entahlah…”

Kelas XII merupakan masa-masa yang tak terlalu aku nikmati. Beda orang pasti beda cara dalam menikmati masa-masa terakhir di SMA. Bagi mereka golongan yang hiphip hura justru semester awal waktunya dihabis-habiskan untuk bersenang-senang, bagi golongan pemuja nilai tentu moment awal semester merupakan pijakan tepat untuk nyicil belajar untuk mempersiapkan ujian nasional, sedangkan golongan campuran (main + belajar) akan menunggu momentum yang tepat untuk melakukan itu semua.

Lalu aku berada di golongan yang mana? Aku rasa sih tidak masuk di semua golongan yang aku sebutkan tadi. Aku bukan siswa yang suka hip-hip hura, tapi juga tak suka belajar. Semacam pribadi yang berjalan begitu saja. Waktunya sekolah ya berangkat, waktunya les juga dateng dan waktunya pacaran ya pacaran. Seakan menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas. Namun walau demikian aku tetap punya tujuan, yaitu bisa lulus UN, setelah itu hmmm… entah.

Masa-masa SMA yang amat mencekam ialah masa mendekati ujian nasional. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku bukan siswi golongan pintar. Hampir setiap try out selalu tidak lulus di mata pelajaran eksak. Sampai-sampai sudah mengikhlaskan diri nanti UN bagaimana hasilnya. Selain harap-harap cemas soal ujian akhir, masa-masa ini aku juga mendapatkan tekanan yang cukup besar dari keluarga khususnya orang tua. Sama seperti orang tua kebanyakan yang menginginkan anaknya kuliah kedokteran atau masuk akademi militer. Alasannya sederhana, yaitu agar setelah lulus tak perlu pusing cari kerja. Selain itu kedua pekerjaan itu secara ekonomi sangat menjanjikan.

Sebagai anak SMA yang masih dilanda kebingungan dan keraguan, tentu aku mengikuti saja apa mau mereka. Bayangan hidup kedepan akan seperti apa sungguh belum muncul saat itu, jadi lagi-lagi mengikuti arus. Tekanan yang paling membuatku jatuh bangun ialah ketikan aku dipaksa untuk ikut latihan fisik mempersiapkan tes taruni. Lelah fisik mungkin tak seberapa, tapi lebih dominan saat itu ialah lelah hati. Memaksa diri untuk ikut apa yang sebenarnya bukan keinginan dari hati itu sangatlah tidak enak. Aku semacam tak mengenal diriku sendiri, apa yang benar-benar ku inginkan. Selain itu tinggi badanku juga kurang 3 cm, sehingga aku diharuskan untuk terapi tinggi badan di klinik alternatif. Setiap mau datang terapi badanku langsung kaku dan aku hanya bisa menangis saja selama sesi terapi. Rasa-rasanya ingin sekali kabur dari situasi itu, tapi sayangnya tak punya daya.

Setelah beberapa bulan mengikuti sesi terapi, tiba waktunya untuk tes administrasi. Syukurlah aku tidak lolos di tahap pertama karena tinggi badanku tetap tak bertambah. Walau masih mendapatkan tekanan untuk mencoba tahun depan, namun di saat itu aku bisa bernafas lega. Lega sekali. Tapi bukan berarti tuntutan berhenti begitu saja. Setelah plan A gagal, maka aku harus ikut plan B yaitu mendaftar tes Fakultas Kedokteran.

Sebelum SNMPTN di buka, aku sudah lebih dari dua kali ikut tes fakultas kedokteran di Universitas Swasta. Ujiannya sudah berbasis komputer, begitu salah pilih ya sudah tidak bisa di ganti lagi, waktunya tentu terbatas yaitu 90 menit saja. Namanya fakultas kedokteran bahan yang diujikan tentu saja mata pelajaran eksakta. Try out aja banyak gak lulusnya, gimana seleksi fakultas kedokteran? Tau sendiri lah ya maksudnya. Begitu pula dengan ujian SNMPTN, kalo ini sih hanya formalitas aja hehe.

Nah sebelum aku ikut berbagai macam tes itu semua, aku pernah mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur prestasi di univ swasta Unika Soegijapranata (yang jadi almamaterku). Hanya berbekal nilai raport dari kelas X sampai XII semester 1 aku sudah bisa ketrima di fakultas yang menjadi favorit. Tanpa tes pula. Jadi ketika semua seleksi yang aku ikuti gagal, aku hanya mengandalkan fakultas psikologi yang sudah jelas-jelas menerimaku apa adanya haha.

Ketika memilih fakultas psikologi itu sebenarnya juga pilihan cap cip cup kembang kuncup alias tebak-tebak berhadiah. Pertimbanganku memilih fakultas psikologi ialah karena aku sudah familiar aja dengan bacaan-bacaannya dan di pikiranku tidak perlu ketemu dengan mata pelajaran eksak lagi. Selain itu fakutlas psikologi itu salah satu fakultas yang favorit di Unika Soegijapranata.

Dan taraa.. ketika waktiu kelulusan tiba, aku tak perlu repot ikut tes sana sini karena merasa belum mendapatkan univertas yang diinginkan. Senang rasanya tak perlu pusing-pusing lagi belajar seperti teman-teman yang lain. Saat kebanyakan dari mereka hiruk pikuk, aku sudah mempersiakan diri untuk memulai petualangan baru, yaitu menjadi mahasiswi fakultas psikologi 🙂

“Aku bisa sampai di posisi sekarang tentu pernah menghadapi situasi tak tau arah. Dulu aku seringkali iri dengan teman-temanku yang sudah paham mau lanjut kuliah jurusan apa atau sudah tau arahnya kemana. Namun walaupun demikian, aku selalu percaya Tuhan selalu kasih petunjuk. Kadang yang dianggap salah jalan atau tidak tau kemana arah sebenarnya itulah jalan yang sebenarnya. Tak perlu takut untuk berbalik arah jika memang mesti berbalik arah, karena berbalik itu bukan berarti memulai semuanya dari nol.”

By celotehyori

Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.