demas malam pertama

CEMAS MALAM PERTAMA

Bagi sebagian orang, salah satu hal yang dicemaskan saat menjelang hari pernikahan ialah tentang malam pertama, yup bukan tentang bagaimana prosesi pernikahannya malahan.

Kenapa ya bisa gitu ya? Well hal ini tidak terlepas dari penilaian sosial bahwa yang namanya malam pertama itu menentukan malam-malam berikutnya. Laki-laki dan perempuan tentu saja beda mempersepsikan soal malam pertama. Namanya malam pertama itu ya soal seksnya.. padahal kenyataan banyak mempelai yang lunglai waktu walam pertama haha.

Nah kembali ke topik sebelumnya, bahwa bagi pria namanya malam pertama itu wajib sukses membuat ‘gol’. Sukses tidaknya malam pertama itu ada kaitannya dengan harga diri. Mengapa? Karena biasanya, bagi laki-laki akan ditanyain tuh sama teman atau saudara2 “Gimana malem pertamanya? Suksesss?” nah dari situlah banyak pria yang menggebu agar dapat pengakuan dari lingkungan kalo dia bisa ngegolin di malam pertama. Hal tersebut seringkali membuat pria lebih sibuk mencari berbagai referensi untuk bisa tahan lama dan berhasil men’jebol’ di malam pertama. Sayangnya sebagian besar informasi yang di dapat ternyata keliru, bahkan ada yang terbilang ngaco yaitu dengan mengkonsumsi obat-obat tertentu namun tidak di pikirkan efek sampingnya bagaimana.

Sedangkan perempuan seringkali soal berdarah atau enggaknya yang menjadi isu utama. Bagi mereka yang masih tradisional bukti keperawanan itu dilihat dari darah dari robekan selaput dara atau hymen. Jadi walau masih perawan ting ting, kalo ketika malam pertama nggak berdarah maka itu sudah jadi persoalan yang besar, bahkan bisa sampai kerabat jauh bisa mendengar persoalan ranjang di malam pertama ini. Padahal bentuk dan jenis hymen berbeda. Ada yang tipis dan ada yang tebal. Bagi hymen yang tipis maka pembuluh darahnya juga kecil sehingga kemungkinan pendarahan juga sedikit.

Malam pertama boleh dipersiapkan dengan maksimal, namun sekali lagi jangan jadikan malam pertama sebagai tolak ukur kesuksesan dalam pernikahan. Ingatlah bahwa untuk membangun pernikahan samawa itu bukan hanya perkara seks saja yang menjadi konsen utama, yang terpenting ialah soal visi misi yang sejalan serta komitmen yang dibangun dengan pondasi kuatlah yang lebih penting.

Sekali lagi perkara seks itu persoalan skill yang bisa dipelajari dan diupgrade, jadi kalo performa di malam pertama belum maksimal maka masih ada malam-malam berikutnya untuk latihan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.