Huaa.. akhirnya bisa ngeblog lagi setelah sekian lama hiatus ngurusin tesis wkwkw…

Beberapa akhir ini, kalian yang update soal dunia seksual pastinya tahukan ada dua hal yang lagi hits, yang pertama soal penutupan Surga Dunia Alexis dan yang kedua adalah soal penangkapan dua pelaku BDSM.

Nah soal penutupan Alexis, mungkin udah banyak banget ya yang bahas. Ada yang bilang itu penutupan karena hal politik dan ada pula alasan-alasan lain. Karena aku memang tidak tau lebih dalem (belum pernah masuk situ maksudnya) jadi aku gak akan membahas itu lebih banyak. Nanti dikira ikut-ikutan tren aja xixixi. Tapi pada postingan kali ini aku ingin membahas  soal kasus yang kedua yaitu tentang kasus BDSM.

Pastinya akan banyak yang bertanya, kenapa aku berani-beraninya membahas soal BDSM. Naaaah.. Pastinya aku akan membahas ini bukan asal-asalan aja. Selain aku akan mencantumkan beberapa hal dari referensi ilmiah, aku juga akan mencantumkan penjelasan yang bersumber dari hasil wawancaraku dengan beberapa orang yang sudah lama menjadi pelaku BDSM.

Sebelum aku lanjut lebih dalam membahas soal BDSM, pasti banyak yang bertanya sebenernya BDSM itu suatu bentuk kejahatan seperti tindakan sexual abuse atau bukan sih?

Awalnya, aku pun punya pertanyaa demikian. Aku menganggap bahwa orang-orang yang memiliki kecenderungan BDSM adalah orang-orang yang sering melakukan abuse. Bahkan aku juga pernah berpikir bahwa para pelaku BDSM itu tidak memiliki hubungan sosial yang baik karena cenderung melakukan kekerasan pada orang lain. Namun, seiring aku aku makin banyak membaca soal BDSM dan bahkan samapi mewawancarai lebih dari dua orang pelaku BDSM, sudut pandangku mulai berubah. Dan melihat BDSM dari sisi yang berbeda.

bdsm

 

Secara definitif, BDSM merupakan singkatan dari beberapa kepanjangan. BD = bondage & discipline (kekangan & kekangan) , DS = Dominance & Submision (dominasi & submisi), SM = Sadism & Masokism (menyakiti dan disakiti).

Terdapat perubahan yang cukup signifikan tentang BDSM menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM I & II menyatakan bahwa BDSM merupakan bentuk dari penyimpangan. Sementara, DSM IV dan V menjelaskan bahwa bahwa BDSM hanya tergolong sebagai gangguan psikologis jika menyebabkan tekanan pada diri sendiri dan orang lain. Sehingga BDSM tidak menjadi masalah bila tidak menyebabkan tekanan bagi diri sendiri dan orang lain. (Hasil penafsiran pribadi).

Banyak pakar perilaku terdahulu yang menyatakan bahwa BDSM perupakan salah satu parafilia atau penyimpangan. Beberapa pakar psikologi menghubungkan masokisme dan sadisme dalam BDSM dengan kondisi kejiwaan seperti kegelisahan/anxiety (Bond, 1981; Freud 1961; Socarides, 1974; Stolorow, 1975), dan depresi (Blum, 1988).

Dari hasil wawancaraku dengan dua orang pelaku BDSM, bahwa latar belakang mereka memang dapat dikatakan memiliki historis yang sangat traumatis. Kebetulan keduanya perempuan dan memiliki kecenderungan sebagai sub (submisif atau yang suka disakiti). Sebut saja kedua orang tersbeut ialah KE dan NF. KE dan NF memiliki latar belakang keluarga broken home. Sejak kecil KE mengalami kekerasan oleh ayahnya, sedangkan NF mengalami kekerasan seksual yang juga dilakukan oleh ayahnya. Keduanya cenderung memendam rasa sakit yang dialami. Baik KE dan NF pernah melakukan self harm yaitu menyilet-nyilet lengan sebagai cara pelepasan rasa sakit psikis mereka. Hal ini senada dengan yang dikatakan para pakar, bahwa perilaku BDSM berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Namun, hal ini tidak berlaku pada semua pelaku BDSM. Sebab ada juga pelaku BDSM yang diakibatkan oleh proses belajar dan bahkan ada juga yang menyebutkan sebagai perilaku bawaan (masih diteliti lebih lanjut).

Lebih lanjut lagi, KE dan NF awalnya merasa apa yang dilakukannya sangat aneh karena tidak seperti orang kebanyakan. Mereka berdua mulai banyak mencari-cari referensi, mulai dari artikel sampai dengan komik. Dari situlah mereka memahami bahwa kesukaannya merasa tersakiti salah satu bagian dari BDSM.

Salah satu prinsip yang diterapkan dalam BDSM ialah saling percaya dan mau sama mau. Sehingga, bila BDSM dilakukan tidak dengan keinginan satu sama lain bisa jadi itu masuk dengan perilaku sex abuse. Inget kasus Manohara? Nah.. itu salah satu contoh kasusnya.

Ya, yang penting dalam BDSM ialah ada kesediaan dari masing-masing pihak. Secara sederhana,  aktivitas BDSM cenderung seperti “adegan” atau “sesi” (scene) yang dilakukan pada waktu tertentu di mana kedua pihak menikmati skenario yang melibatkan salah satu pihak melepaskan kontrol atau otoritas.

Karena dilakukan atas dengan kesepakatan, sehingga scene dilakukan dengan suka rela, bukan dipaksa, dan melakukan hal-hal yang diminta. Semua pihak yang terlibat menikmati sesi tersebut, walaupun aktivitas berupa disakiti, dikekang, dll, pada situasi normal sangat tidak menyenangkan. Selain itu adanya faktor saling percaya sangat dibutuhkan karena bagi submisif menyerahkan kontrol pada pihak dominan yang memiliki kekuasaan. Tidak semua kontrol sub diserahkan pada dom. Dalam perjanjian sebelum scene biasanya sub akan menjelaskan apa fetish dan batas kemampuan menahan rasa sakit. Berbeda dengan slave, yang menyerahkan segala hak hidupnya pada master (nanti aku bahas di bagian ke dua ya xixi). Dan karena berbasis perjanjian dan kepercayaan, maka tidak semua scene berakhir dalam hubungan seks. Ya! terkadang ada sub yang meminta dom hanya melakukan bondage (mengikat dengan tali) begitupula ada dom yang hanya ingin merasakan sensasi mencambuk tanpa disertai dengan hubungan seks.

Mugkin ini dulu yang bisa aku bahas kali ini. Karena bahasan yang sangat banyak, jadi aku bagi menjadi dua postingan. Nah, pada bagian kedua nanti aku akan menjelaskan lebih lanjut tentang BDSM secara lebih dalam. Fetish apa saja yang ada, apakah sub bisa menjadi dom, dll. So see you on the next post 😉

3 COMMENTS

  1. Hi Yoke,

    Saya mau sharing.

    Saya generasi 80an, saat itu, hukum perlindungan anak belum sebaik sekarang, orang tua kerap kali mengajar dengan kekerasan, setiap hari anak dipukul, dan disekolah juga, guru diperbolehkan memukul muridnya. Lebih parahnya lagi, banyak pedofil berkeliaran dan terang terangan di tempat umum, jika tertangkap, mereka hanya dihukum ringan atau bahkan tidak dihukum, kecuali disertai pembuhuhan, itulah mengapa saat itu banyak sekali serial killer.

    Jaman dulu, mau apapun yang terjadi, tanpa melihat sebabnya, tanpa memberikan penjelasan, orang tua selalu menyalahkan anaknya sebagai anak nakal. Misalnya, orang tua menaruh setrikaan di lantai, dan tangan anaknya kena setrikaan itu sampai luka bakar, orang tua langsung memarahi dan memukuli anaknya, sambik berkata dengan nada tinggi “Nakal banget sih jadi anak, ini kan panas jangan dipegang, dasar bodoh!”. Kalau pemikiran saya, itu orang tuanya yang salah, karena menaruh barang berbahaya di tempat yang dapat dijangkau anaknya, bukan anaknya yang salah, anak kecil wajar ingin tahu, memegang barang yang “asing” bagi dia.

    Rumah saya saat SD, di sebuah kampung padat penduduk, sebagian besar adalah masyarakat tidak berpendidikan, disana banyak bapak2 dan kakek2 yang memaksa saya untuk menunjukan alat kelamin saya, dan lama kelamaan memaksa saya untuk mengonani dan mengoral alat kelamin mereka.

    Pada awalnya saya takut, berontak dan menangis, saya lari kerumah dan menceritakan ke keluarga. Tapi orang tua dan nenek saya tidak percaya, karena memang di muka umum, bapak2 itu orang yang baik, sopan, dermawan, dan disegani di kampung itu. Bahkan nenek saya malah memukuli saya, dan mengatakan kalau saya ini anak durhaka, karena memfitnah orang tua.

    Setelah cerita beberapa kali dan saya masih menerima respon yang sama, saya akhirnya pasrah dengan keadaan. Hampir setiap hari saya mengalami pelecehan seksual dari bapak2 itu. Awalnya saya anak periang dan aktif, perlahan saya menjadi anak yang pendiam.

    Selain dari segi seksual, saya juga mengalami siksaan fisik. Saat TK, rambut saya dijenggut dan saya seret seperti layaknya binatang oleh guru saya, dan saya ditenggelamkan di kolam ikan, kesalahan saya cuma sepele, karena mengobrol di kelas, padahal sangat wajar jika anak TK itu aktif dan suka mengobrol. Saat saya cerita ke orang tua, mereka malah memarahi saya dan menegaskan kalau saya memang anak nakal, bahkan sesudah itu, ibu saya jadi suka menenggelamkan saya di bak mandi.

    Saat ada masalah, saya menjadi pelampiasan orangtua saya, walau saya sedang diam, mereka selalu mengungkit lagi hal yang sudah lewat dan memarahi saya. Saya memiliki penyakit asma, karena dimarahi dan dipukuli terus menerus, asma saya jadi sering kambuh, dan kesehatan saya menurun drastis, dalam seminggu, bisa 3x saya ke UGD, sampai2 perawat dan dokter disana mengenal saya.

    Kekerasan terhadap anak ini dialami oleh hampir semua teman saya angkatan 80an, kecuali yang dari latar ekonomi tinggi/kaya. Ada teman saya yang sekarang jadi gagap, ada yang jadi pendiam sekali, berhari-hari tidak bicara.
    Kekerasan seksual dari bapak2 yang saya ceritakan diatas, saya alami sampai sekitar SD kelas 5, karena mereka berdua meninggal dunia.

    Jika saya sakit, orang tua saya tidak menanyakan atau memberikan perhatian dan merawat saya, mereka malah memarahi saya “Dasar anak nakal! Makanya jangan nakal, jadi sakit kan, syukurin sakit!”. Kalau harus kerumah sakit, mereka mengantarkan, tanpa memberikan perhatian apapun.
    Mereka sibuk bekerja dari jam 7pagi sampai jam 7malam, saat pulang, selalu ada saja alasan untuk memarahi saya. Saya mencoba untuk bunuh diri beberapa kali, tapi Tuhan berkehendak lain, semua percobaan bunuh diri itu gagal.
    Saat SD saya sedih saat melihat teman2 sekolah yang disayang oleh orang tuanya, saya ingin merasakan bagaimana rasanya kepala saya diusap, saya juga penasaran bagaimana rasanya kalau makan disuapi, kalau sakit ditanya “Ade, kenapa sakit, ini minum obat dulu”, dll.

    Di sekitar sekolah saya, ada beberapa bapak2 pedofil juga, mereka suka memanggil saya, menelanjangi saya dan menyuruh mengoral mereka, saya entah kenapa mau saja melakukannya, karena saya bingung sebenarnya itu hal buruk atau hal yang wajar, karena tetangga saya juga melakukan hal yang sama terhadap saya. Untungnya saya belum pernah sampai disodomi.

    Saat saya kecil, saya tidur satu kamar dengan orang tua, beberapa kali saya melihat mereka bersetubuh, dan mereka itu hypersex, dan ayah saya suka mengintip rok wanita di angkutan umum. Saat saya SD kelas 5, orang tua memperkerjakan seorang pembantu, seorang janda masih muda. Saat itu mental saya menjadi semakin rusak, saya suka mengintip pembantu saya saat sedang mandi, dan saya menjadi eksibisionis, saya suka menunjukan kelamin saya ke pembantu, ke bapak2 yang lewat depan rumah, ke tukang becak, ke siapapun tanpa pandang bulu.

    Bisa dibilang, saya setiap hari selalu stress, tapi saya menjadi menikmati saat dipukul orang tua dan guru, saya suka sensasi sakit itu. Saat SMA saya mencoba mencari pelampiasan, saya bergabung dengan sebuah geng besar yang sering mengadakan perang, saya menjadi pecandu narkoba dan alkohol.

    Akhirnya saat awal kuliah, saya bertemu seorang wanita yang baik, dan saya meninggalkan semua pergaulan yang buruk. Kami pacaran selama 8th. Dia ini berparas ayu, hitam manis, dan sopan, tapi dibalik itu semua, dalam hal sex, dia menjadi orang yang berbeda, dia ini yang mengenalkan saya ke dunia BDSM, dan dia ini hypersex, dalam sehari bisa lebih dari 5x. Masa kecil dia lebih kelam dari saya, ayah dia selingkuh dan pergi menginggalkan ibunya begitu saja, saat dia SD. Kami suka bermain scene, biasanya R@pe scene, humiliation, dan cock balls torture, jujur saja saya menikmati itu semua dan saya suka dengan rasa sakitnya.

    Dan dia juga seorang eksibisionis, sering mempertontonkan tubuhnya di tempat umum, jarang memakai bra dan celana dalam. Bahkan kami pernah meminta beberapa tukang becak untuk menonton saat kami bercinta. Kami suka adrenalin yang didapatkan dari eksibisionis, rasa takut bercampur dengan reaksi orang yang melihat, sungguh memberikan kenikamatan tersendiri.

    Diluar itu semua, personality dia itu baik, sopan, perhatian, dll, dan saya sangat menyayanginya. Saya dan dia memutuskan untuk menikah, dan sudah menentukan bulan dan tanggalnya, keluarga kami juga sudah saling dekat dan merestui. Tapi karena ada urusan kerjaan, saya diharuskan untuk pindah kota selama 3 bulan. Dia sering curhat kalau dia tidak tahan, karena dia memang hypersex. Walaupun saya dua minggu sekali pasti mampir ke tempat dia, tetap saja tidak cukup.

    Ternyata dia selingkuh, beberapa kali, saya maafkan, dan dia masih selingkuh dengan beberapa orang, sampai akhirnya hamil dengan selingkuhannya. Disana saya sedih sekali, dan kecewa. Saya sudah tidak mentolelir kesalahan berulang-ulang, apalagi dia sudah hamil. Saya memutuskan hubungan dengan dia, tapi tetap berhubungan baik sebagai teman.

    Setelah itu, entah mengapa, semua pengalaman buruk dari kecil menjadi terangkat di otak saya. Dan kekecewaan saya terhadap wanita, membuat saya menjadi seorang biseks, dan untuk sesama jenis, saya hanya suka dengan bapak2 atau kakek2. Saya mulai mencari kembali sosok ayah yang tidak pernah saya rasakan. Dan saya mulai malas untuk menjalin hubungan dengan wanita, tapi tidak menutup diri.

    Saya sendiri merasakan ada yang tidak beres dengan pikiran saya, semakin lama semakin kuat, saya semakin tidak bersemangat, dan saya tidak suka dengan perasaan ini. Teman dekat saya ada yang seorang psikolog, tapi tentunya saya tidak dapat menceritakan semua ini dengan dia, bahkan saya tidak pernah menanyakan apapun seputar dunia psikologi, karena takut dia merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri saya. Tapi saya pernah meminta tes Rorschach, dan semua hasilnya adalah sifat2 positif, saya tidak memiliki sifat negatif. Teman saya ini orangnya jujur dan blak blakan, saya yakin tidak ada yang di tutup-tutupi, bahkan salah satu teman kami yang memiliki masa kecil yang mirip seperti saya, ada yang hasil testnya memiliki “keinginan membunuh yang kuat”, dan hasil negatif lainnya, tapi saya tidak memiliki itu semua.

    Saya ingin sekali pergi ke psikolog, tapi saya takut kalau ke psikolog di kota yang sama, ada kemungkinan dia kenal dengan teman saya itu. Dan kalau ke luar kota hanya untuk bertemu psikolog, sepertinya repot sekali, mengingat kesibukan saya saat ini.

    Sebaiknya apa yang harus saya lakukan ? dan apakah hipnoterapi bisa membantu menyamarkan pengalaman buruk, dan memfokuskan ke hal yang lebih positif?

    Dan apakah jika kita berkonsultasi dengan psikolog, kita bisa meminta perjanjian diatas materai, untuk kerahasiaan ? Seperti NDA agreement.

    • Halo Key..
      Terima kasih sekali sudah sharing pengalamannya. Dan saya sangat apreciate sekali.
      Dari cerita yang saya baca memang pendamanmu sangat dalam sekali. Dan tentu saja hal-hal yang kamu alami saat ini merupakan manifestasi dari masa lalumu yang sudah banyak sekali mengalami pelecehan serta kekerasan. Saya menyarankan ada baiknya untuk konsultasi secara lebih mendalam dengan psikolog. Bila kamu merasa kurang aman dengan psikolog yang berada di satu kota maka kamu bisa ke psikolog yang berada di luar kota yang masih bisa dijangkau. Sebenarnya setiap psikolog dibekali dengan kode etik, salah satunya ialah menjaga privasi klien. Walau psikolog itu teman dekat sekalipun, psikolog tetap harus berlaku secara profesional. Jadi menurut saya sih tidak perlu ada perjanjian hitam diatas putih terkait menjaga kerahasiaan, karena itu sudah kewajiban psikolog.

      Tapi saya tetap lebih prefer kamu mencari psikolog yang memang secara personal tidak kenal dekat untuk menjaga netralitas.

      Semoga membantu ya..
      Thanks sebelumnya.

      • Hi Yori,

        Ini saya orang yang sama yang komentar diatas.

        Terima kasih atas balasannya, mohon maaf saya pakai email palsu untuk komen, soalnya saya hanya ada satu email, dan tidak nyaman rasanya untuk memakainya.

        Saya lupa memberitahu dengan lengkap apa alasan saya malas ke psikolog. Dulu saat kuliah di kampus ada psikolog khusus untuk mahasiswa, saya sempat menceritakan semuanya pada dia, dia juga berjanji untuk tidak memberitahu siapapun. Ternyata dia membocorkan rahasia itu ke dosen-dosen, sampai akhirnya semua orang tahu dan saya menjadi bahan hinaan.

        Kalau ada perjanjian di atas materai, tentu akan lebih aman, karena saya sekarang bekerja sebagai seorang professional yang nama baik adalah segalanya, saya takut data dan cerita saya disebar luaskan.

        Berdasarkan pengalaman ini sekarang saya jadi skeptis dan sangat berhati-hati.

        Btw, saya mencoba mencari lembaga2 psikologi di kota saya, namun sayangnya semua hanya menerima konsultasi masalah anak, atau corporate, tidak ada yang menerima konsultasi pribadi untuk dewasa.

        Jadi sepertinya biarlah saya pendam saja semuanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.