Marty's Complex

“Gpp aku yang sakit, yang penting dia bahagia…”

Memilih sengsara demi orang lain bahagia? Yakiin???? Jangan-jangan kamu sedang mengalami Martyr’s Complex!

Dalam hubungan cinta kadang semua menjadi naif. Tak terkecuali rasa sakit yang dirasakan bisa dianggap sebagai suatu pengorbanan untuk orang yang dicintai. Sekilas memang romantis, tapi sayangnya itu justru membuat seseorang makin tidak berdaya. Setelah diselidiki lebih lanjut, tipikal pecinta romansa sakit hati ini masuk dalam kategory Martyr’s Complex.

Apa sih Martyr Complex?

Ada suatu pola perilaku yang merusak pada seseorang yang seringkali mencari penderitaan atau kesakitan sebagai cara untuk merasa lebih baik pada diri sendiri.

Menurut Psikoterapis Sharon Martin, orang dengan martyr Complex akan mengorbankan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri demi orang lain. Namun apa yang dilakukan bukan atas dasar kerelaan hati dan hati yang gembira namun karena keterpaksaan yang tak jarang diikuti rasa bersalah. Lebih lanjut, dalam hal relasi orang dengan Martir Complex memilih untuk menderita dengan mengatasnamakan cinta atau kewajiban.

Dari berbagai penelitian yg telah dilakukan ditemukan bahwa kebanyakan martir kompleks terjadi pada orang-orang yang terlibat dalam abusive relationship, kodependen atau memiliki riwayat keluarga yang maladaptif. Dalam beberapa kasus kondisi ini terkadang dikaitkan juga dengan kepribadian masokis. Dengan segala penderitaan yang dirasakan, seringkali mereka menolak dinasihati atau menolak diberi bantuan. Istilahnya penderitaan adalah sebagai jalan penebusan dosa.

Martir Complex juga sering dikaitkan dengan Victim Complex atau mentalitas korban. Bedanya adalah mentalitas korban menggambarkan kepercayaan pada diri seseorang yang percaya bahwa mereka akan terus menerus menjadi korban atas keadaan, sedangkan martir kompleks lebih mencari penderitaan itu sendiri. Namun ada kondisi yang sama yang menjadi ciri kedua complex tersebut yaitu rendah diri, merasa tidak berdaya, putus asa, pesimis, dan seringkali merasa seperti tidak pernah punya pilihan.

Tak banyak mereka yang mengalami ini mau dengan rela hati menyadari bahwa hal ini adalah sesuatu yang keliru. Sebab dengan menyadari kondisi ketidak berdayaan mereka dikarenakan belief mereka sendiri yang keliru, itu sama saja mengambil tanggung jawab diri untuk mau berubah. Merubah pola pikir, mindset dan belief system butuh usaha yang besar, ingin saja tak cukup. Sebab ini bagian dari mengendalikan diri sendiri.

Kembali lagi kita selalu punya pilihan. Sesulit apapun kondisi yang dialami, kita selalu punya pilihan. Ini adalah salah satu cara agar kita percaya bahwa diri kita berdaya.

Source:

https://www.thoughtco.com
https://www.healthline.com
https://lonerwolf.com
SHARE
Previous articleRumah Tangga Merdeka
Next articleStatus Pacar, tapi cuma jadi Fuck Buddy?
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.