pinterest

Bagi sebagian orang, menikah merupakan salah satu step kehidupan yang menjadi salah satu tanda memasuki fase kedewasaan. Menikah yang dimaksud ialah menikah dengan siap ya, bukan menikah karena zzzzz… Walau realita sekarang memang menunjukan ada pergeseran soal menikah bukan jadi jaminan fase naik level kedewasaan, namun aku akan lebih bahas ke hal terkait menikah sebagai suatu pilihan.

By the way, sebagai konselor pernikahan tentu issue soal mempersiapkan pernikahan merupakan hal yang sangat krusial. Tak perduli semewah apa pernikahan yang di gelar, kalau secara mental psikologis tidak ada kesiapan dan kebulatan maka itu akan jadi momen bahagia yang hanya sementara.

Salah satu hal yang penting dalam rangka mematangkan mental menuju jenjang pernikahan ialah value. Nyambung ngobrol aja nggak jaminan kalo value antara kedua belah pihak udah sinkron. Kalau menurut seorang terapist Katie Krimer, core value (inti nilai) bisa menjadi perekat dalam hubungan romantis, sebab mengacu pada keyakinan mendasar yang sama yang mungkin membuat seseorang merasa aman, nyaman, terinsipirasi dan memiliki rasa keterhubungan dengan pasangannya. Bisa dibilang, core value ini sebagai landasan perekat dalam suatu hubungan. Saat sepasang kekasih sudah saling memahami dan bisa menerima core value masing-masing maka ketika terjadi konflik akan lebih mudah dalam mencari penyelesaian atau titik temu yang sama.

Tentu aja untuk bisa memiliki core value dalam hubungan, secara pribadi harus memiliki dan memahami soal dirinya masing-masing dulu. Jika salah satu nggak ngerti apa core value dalam diri sendiri maka akan kesulitan untuk menemukan pasangan yang pas. Atau kalau sudah punya pasangan maka akan jadi timbul masalah terus yang begitu-begitu aja.

Nah, salah satu core value yang wajib untuk disamakan frekuensinya dalam pernikahan ialah terkait peran. Kita semua secara nggak sadar sudah didokrin baik langsung maupun nggak langsung terkait peran suami dan istri. Kok bisa gitu? Iya donk, walau orang tua kita sudah menerapkan kesetaraan dalam rumah tangga, namun kita tetap saja terpapar oleh lingkungan sekitar, seperti keluarga besar, sinetron yang kita tonton wkwkw, dsb. Maka banyak yang bilang kalo untuk bisa menanamkan kesetaraan dalam rumah tangga itu memang suatu perjuangan, karena ini bukan soal personal tapi soal sistem.

Nah penting banget punya pemahaman soal kesetaraan gender dalam rumah tangga. Ini bukan soal hanya siapa yang punya kewajiban menafkahi lho, tapi ini juga bisa sampai pola pengasuhan anak. Menjadi setara itu bukan berarti sama, tapi lebih pada setiap orang punya sisi lemah dan sisi kuat masing-masing dan disitulah ruang untuk kolaborasi bersama.

Ketika core value ini sudah seiring sejalan maka sebagai pasangan kita bisa menjadikan pernikahan sebagai suatu medium untuk merealisasikan kedaulatan dan kemerdekaan.

Nah kalaupun ini bukan menjadi core value bagi kamu dan pasangan, ya nggak menjadi masalah yang terpenting ialah mau saling menyesuaian dan nggak saklek dengan tatanan nilai yang ada. Kalo istri bisa benerin kran aer kenapa nggak? Dan kalo suami bisa bikinin bubur bayi juga why not?  Jangan jadikan pernikahan sebagai penjara karena ada perubahan peran dan tanggung jawab yang dijalani.

SHARE
Previous articleBudak Cinta
Next articleApa sih Martyr’s Complex?
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.