Columbus Museum of Art / Howald Fund

Adakah teman-teman yang mengalami kondisi demikian? Kalau ada diantara kalian yang mengalami hal ini hmm… sebaiknya mulai deh mengevaluasi hubungan yang sekarang ini sedang dijalani. Hal ini bukanlah sesuatu yang sepele lho.. Selain berpotensi menimbulkan problem serius dalam pernikahan, hal ini juga menandakan bahwa ada yang nggak beres nih sama pola komunikasi yang selama ini dilakukan.

Tak semua pasutri bisa sangat terbuka membahas soal ranjang. Bahkan mereka lebih memilih untuk cerita soal problem ranjang dengan teman terdekat masing-masing atau orang lain yang dirasa bisa memegang rahasia. Agak aneh, tapi ini benar adanya. Sampai-sampai ada seorang istri yang heran kok sahabat suaminya yang justru membuka omongan dengan memberi saran agar menjalani konsultasi pasutri. Niatnya memang baik, tapi, ndak pas aja gitu lho.. Logikanya ini persoalan yang sangat privat, tapi kok bisa ya sampai orang lain yang lebih paham?

Terkait dengan case sesuai judul, saya tidak akan membahas lebih dalam soal penyebab ejakulasi dini secara medis karena bukan kapasitas saya. Namun saya ingin fokus pada sikap suami yang justru menyalahkan istri atas kondisi yang dia alami.

Kasus-kasus seperti itu cenderung lebih banyak terjadi pada pernikahan 5 tahun ke atas. Di mana sudah terbentuk pola komunikasi yang “monoton” baik itu dalam atau di luar ranjang. Persoalan ejakulasi ini jika ditilik lebih dalam tak hanya sekedar persoalan fisik, tapi juga soal ego.

Coba deh kalian perhatikan di iklan-iklan televisi yang mengiklankan produk untuk meningkatkan performa pria di ranjang? Gambaran seperti apa yang ditampilkan dalam iklan tersebut? Apakah ada pria dengan yang perut buncit atau memiliki fisik disabilitas? Pasti jarang banget, bahkan tidak ada sama sekali. Selain soal tampilan secara fisik, pria perkasa diindetikan dengan yang bisa membuat wanita kewalahan di ranjang, kalau bisa sampe nangis ampun-ampun baru itu namanya pria perkasa.

Sadar nggak sadar, produk-produk tersebut sudah menjadikan pria yang memiliki self esteem yang rendah menjadi market. Walau obat-obatan yang diminum memiliki efek tertentu, tapi efek sugestif juga memiliki peran yang penting. Sehingga banyak kasus yang sulit sekali lepas dari jenis obat-obatan tersebut atau merasa tidak bisa maksimal jika tanpa obat. Bukan berarti jika suami atau anda sendiri mengalami disfungsi ereksi tidak memerlukan pengobatan. Tentu saja butuh, tapi sumber obatnya dari mana yang wajib anda perhatikan. Jangan asal beli di toko-toko pinggir jalan atau online shop. Lebih-lebih bagi anda yang mengalami disfungsiseksual bukan dari faktor fisik, namun psikis.

Padahal ada sumber daya yang sudah diberikan Tuhan untuk bisa anda maksimalkan dalam hal ranjang, yaitu otak. Banyak cara memaksimalkan otak untuk meningkatkan kepuasan di ranjang. Cara-cara seperti ini tentu saja nggak instan dan butuh komitmen yang serius untuk melakukannya dengan konsiten. Jadi bagi kalian yang sukanya instan dan males untuk berlatih endingnya ialah lari ke obat-obatan yang nggak jelas kegunaanya dan punya efek samping yang serius.

Jika merasa jalan instan sudah tidak lagi memberikan manfaat maka hal yang paling mudah selanjutnya ialah menyalahkan orang lain, dalam hal ini istri. Laki-laki yang sudah ter-inject dengan konsep maskulinitas semua akan merasa punya kontrol yang kuat sehingga bisa dengan semena-mena pada pasangan yang dianggapnya lebih rendah. Sebenarnya maskulinitas semu ini tak hanya dari bentukan iklan tapi juga bentukan lingkungan, budaya, dan faham seperti partriaki.

Itulah mengapa banyak laki-laki yang merasa insecure di ranjang akan menggunakan kekuasaan untuk menindas pasangan. Walau dalam hal ini istri juga punya tanggung jawab atas penyebab disfungsi seksual namun tidak bisa semena-mena demikian, apalagi istri yang memang masih sangat buta soal ilmu-ilmu seks pasutri. Bukan kesenangan yang didapat, justru terasa seperti ancaman ketika suami mengajak hubungan intim.

Baca juga: Takut Senggama Setelah Menikah

Komunikasi ranjang tentu saja akan bisa efektif ketika faham soal masulinitas semu ini mulai ditinggalkan. Semua laki-laki itu bisa perkasa jika pandai memanfaatkan sumberdaya yang telah diberikan Tuhan. Baik itu yang punya perut buncit, tak berotot seperti pria-pria yang ada di iklan dan disabilitas sekalipun punya keperkasaannya masing-masing. Sebenarnya perkasa atau tidak itu bukan selalu soal performa ranjang, tapi juga soal pola pikir dan kemampuan untuk bisa bersikap setara dengan pasangan.

Kalaupun disfungsi seksual memang dikarenakan penyakit tertentu, istri juga akan mensupport kok dengan membantu dengan teknik-teknik terapi seks yang bisa difasilitasi oleh istri. Dengan catatan, jika anda bersedia untuk membuka komunikasi dari hati ke hati.

Saya harap nggak ada lagi deh pria yang semena-mena begitu.

 

 

 

SHARE
Previous articleMove On Pasca Perselingkuhan
Next articleApakah Cuckold baik dalam Pernikahan?
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.