Hubungan Tanpa Status
Friendzone

Hubungan Tanpa Status (HTS) kini menjadi suatu pilihan bagi mereka yang enggan terikat dalam suatu komitmen namun tetap mendapatkan ‘rasa’ yang tak jauh berbeda dengan relasi pada umumnya. Banyak motif yang melatar belakanginya, salah satunya berkaca dari pengalaman hubungan di masa sebelumnya. Dulu, punya HTS merupakan sesuatu yang dianggap miring karena dianggap tidak bisa bersikap. Kini sebaliknya, menjalani HTS mulai dianggap sebagai sikap pribadi untuk tidak berkomitmen sebelum siap. Dalam bahasa sekarang HTS merupakan casual relationship, yaitu hubungan dengan kedekatan secara emosional maupun fisik namun tidak mengaharapkan akan adanya komitmen serius di dalamnya.

Dulu kita hanya mengenal friendzone dan brotherzone (hubungan kakak adek) yang masuk kategori sebagai HTS, namun kini jenisnya sudah banyak. Friend With Benefit salah satu jenis HTS yang beberapa tahun belakangan ini sedang naik daun selain Hook Up. Walau dalam kategori yang sama, tapi ketiga jenis hubungan tersebut sebenarnya punya karakteristik yang berbeda. Sudah pada tau apa bedanya? Aku bahas satu-satu yaah..

Friend Zone, BrotherZone

Walau namanya beda, tapi sebenarnya dua jenis hubungan ini sama. Bedanya yang satu menganggap teman, sedang yang lain menganggap kakak-adek karena ada perbedaan usia. Relasi ini biasanya diawali dengan obrolan intens yang membuat saling nyaman satu sama lain. Gampangnya jadi teman curhat. Basis obrolan yang intens membuat kedua belah pihak saling sharing soal problem dan masa lalu, walau porsinya tidak selalu seimbang. Maka tak heran, seakan mereka sudah bisa saling paham apa yang dirasakan walau tanpa bicara detil, sehingga muncul tuh rasa perhatian pada hal-hal keseharian, misalnya nanya udah makan belum? udah sholat belum? ngingetin jangan lupa istirahat dan lain-lain. Walau basis ikatan emosi sudah mulai terjalin, tapi kedua belah pihak masih belum nyerempet-nyerempet ke komitmen. Banyak hal kenapa komitmen menjadi sesuatu yang dihindari, biasanya sih karena sudah terlanjur nyaman dan nggak mau merusak hanya karena ada kebutuhan akan keterikatan.

Menjadi temen curhat diawal membuat salah satu atau kedua belah pihak punya analisa masing-masing sehingga menimbulkan asumsi. Jadi, kekhawatiran akan menjadi orang yang bikin sakit hati itulah yang bikin mereka enggan untuk punya komitmen yang lebih serius.

Apakah ada aktivitas seks di dalamnya? Kenyamanan emosional menjadi tolak ukur dalam jenis hubungan ini, jika bicara sampai hubungan seks ini bukan menjadi tujuan utama, tapi seperti kissing, membelai rambut, berpelukan, merangkul, merupakan bahasa tubuh intim yang sering terjadi.

Friend With Benefits

Pastinya udah pada katam lah ya soal hubungan ini, karena udah buanyak banget yang bahas hehe. Walau demikian, masih banyak yang salah persepsi apalagi yang ngejalanin. Orait, aku bahas lagi aja deh ya. Berbeda dengan friend Zone, seks adalah sesuatu yang menjadi tujuan utama dalam hubungan ini. Melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah dikenal sebelumnya memberikan rasa aman tersendiri, setidaknya tau gimana kebiasaan dan karakternya walau nggak terlalu detil. Selain itu, aktivitas seks yang dilakukan dalam FWB biasanya dalam jangka waktu yang relatif lama walau tidak selamanya. Punya teman yang bisa diajak HS beberapa kali merupakan suatu keuntungan tersendiri, itulah mengapa dinamakan teman dengan manfaat. Walau demikian, dalam hubungan ini tidak terlalu membahas soal ranah privat, kalaupun ada obrolan ya sebatas kegiatan sehari-hari atau pembahasan yang memang keduanya mereka lakukan bersama di luar ranjang. Jadi pembahasan soal mantan, masalah keluarga, dan hal-hal lain yang bersifat personal banget mereka hindari. Ya prinsipnya sama, ada temen yang bisa diajak ngobrol serius, mana temen yang asik diajak hang out, dan mana temen yang enak diajak ngent*t.

Hook Up

Menurut online etymology dictionary hook up berarti “connection,link” atau dalam bahasa berarti keterhubungan. Namun semenjak tahun 2003, makna hook up berubah menjadi “to meet for sex”. Lalu apa bedanya dengan one night stand? Nah soal ini memang memang masih menjadi perdebatan tersendiri, ada yang mengatakan bahwa keduanya sama, dan ada juga yang mengatakan bahwa one night stand itu hubungan seks yang bener-bener hanya semalam selesai biasanya orang asing yang ketemu di club, sedangkan hook up tidak selalu dilakukan malam hari tapi bisa kapanpun dan juga bisa perkembangan dari one night stand yaitu bisa akan ketemu lagi untuk having sex atau jadi temen. Hooked up gak selalu having sex, bisa hanya kissing, touching atau cuddling. Jenis hubungan ini tingkat keintiman secara emosional nya memang paling rendah.

Nah, kamu ada di jenis HTS yang mana? Silahkan jawab sendiri-sendiri ya..

Banyak orang walau mereka menghindari komitmen agar tak sakit hati dikemudian hari, namun kenyatannya justru terjebak dalam pola hubungan yang makin complicated. Padahal, tujuan awalnya kan have fun, tapi sering kali berubah jadi sebaliknya. Kenapa bisa begituu??

Selain belum paham betul apa esensi relasi yang dijalani, yang bikin orang makin terjebak dalam kerumitan ialah tidak menerapkan batasan-batasan jelas di dalamnya. Hal tersebut penting karena tembok pembatas ini sebagai rule pribadi agar tidak rumit. Tanpa komitmen merupakan tembok pembatas awal, namun bukan berarti satu-satunya. Kurangnya pembatas ini yang sering kali bikin orang baper, sehingga masuk pada ekspektasi-ekspektasi yang semestinya sudah disadari tidak akan bisa dicapai. Friend Zone dan FWB adalah dua jenis hubungan yang seringkali dianggap sebagai hubungan yang menjebak. Friend Zone dengan intensitas ngobrolnya yang memunculkan emotional attachment, sedangkan FWB dengan intensitas having seksnya.

Banyak yang lupa bahwa semua jenis hubungan itu mengandung risiko masing-masing, walau HTS sekalipun. Bahagia atau nggak menjalani hubungan sebenarnya lebih berkaitan pada komitmen sama diri sendiri dulu. Mereka yang menjalani HTS ya mesti punya komitmen kuat untuk tidak punya ekspektasi lebih dan tau batasan. Kapan memang hubungan tersebut perlu dilanjutkan ke arah serius, kapan memang mesti dihentikan. Sama halnya dengan hubungan ekslusif juga ada konsekuensi memiliki keterikatan karena ada komitmen yang saling dijaga. Bukan soal HTSnya yang menjebak dan sulit melepaskan, tapi ketidak beranian untuk kehilangan rasa nyaman itulah yang jadi penjebaknya.

Jadi apakah bisa tetap bahagia menjalani hubungan tanpa status? Tentu saja sangat bisa!

SHARE
Previous articleSalahkah Menjadi Swinger?
Next articleValuable Relationship : Pantaskah Hubungan ini Diperjuangkan ?
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.