Berusaha sudah menjadi kewajiban bagi setiap individu yang memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu. Bermimpi saja ternyata tidak cukup kalau tidak dibarengi dengan usaha yang maksimal. Tapi banyak sekali orang yang berhenti berusaha karena merasa apa yang diusahakannya tak membuahkan hasil yang diinginkan.

Bagi kamu yang hidup dan besar di kultur timur pastinya sering mendengar adanya petuah-petuah yang mungkin lebih cocok jika disebut dengan mitos. Hal yang relate banget dengan apa yang aku bahas sebelumnya adalah jika sesuatu itu mudah maka tandanya di ridhoi sedangkan jika jalan yang ditempuh itu susah maka berarti sebaliknya. Entah benar atau tidak akhirnya kembali pada believe masing-masing.

Petuah-petuah seperti ini menjadi sesuatu yang menakutkan ketika dialami oleh pasangan yang ingin menikah misalnya. Ketika proses menuju pernikahan menemukan banyak halang rintang maka dapat diprediksi bagaimana pernikahannya kedepan. Banyak pasangan yang mempercayai adanya mitos demikian yang tetap melanjutkan, namun believe system tersebut tetap dibawa sampai pernikahan. Hal ini berdampak pada sikap berjaga-jaga yang terlalu berlebihan ketika ada perselisihan dalam rumah tangga. Kalau menurut Viktor Frank, sikap mengantisipasi masalah secara berlebihan justru akan menarik masalah itu muncul lebih cepat yang disebut dengan parodoxial intention. Namun ada juga yang langsung memutuskan untuk menyudahi karena berkesimpulan jika pernikahan ini dilanjutkan akan berujung pada sesuatu yang tidak baik atau tidak ada berkahnya.

Tapi, aku justru mendapatkan fakta yang tak jauh beda pada pasangan yang mendapatkan kemudahan selama proses menuju pernikahan. Ternyata sama saja, intensitas mengalami konflik juga tak jauh beda. Mereka juga ada yang sampai mengalami konflik yang pelik bahkan tak sedikit sampai memutuskan untuk bercerai.

Lalu apakah believe bahwa segala sesuatu yang susah sudah berarti salah itu benar adanya?

Ternyata bukan soal susah atau tidaknya suatu proses, namun lebih pada value dan keyakinan dalam menjalaninya. Setiap pasangan pasti memiliki proses yang berbeda-beda, jadi sangat tidak elok ketika sedang mengalami suatu kesulitan langsung membandingkan ke pasangan lain yang seakan terlihat hidupnya lebih bahagia. Sampai saat ini aku masih sangat percaya bahwa kata hati adalah perkataan yang paling jujur. Walau segala kemudahan dan keindahan tersaji disetiap proses yang dijalani tapi ketika kata hatimu berkata tidak maka itu semua tidak ada artinya.

Sebaliknya, ketika kamu melalui proses yang begitu berliku dan seakan sedang melawan dunia jika kata hatimu berkata ya dan didukung keyakinanmu yang penuh maka apapun yang ada dihadapanmu maka akan bisa kamu lalui. Tentu saja segala sesuatu yang diperjuangkan maka hasilnya akan membanggakan. Itulah arti dari perjuangan.

Maka jangan langsung mengambil kesimpulan pada apa yang kamu jalani suatu kesalahan. Resapi secara perlahan dan tanyakan pada hati yang paling terdalam apakah jalan yang kamu pilih ini memang kamu yakini akan membuatmu bahagia atau tidak. Jika apa yang kamu ucap senada dengan kata hatimu maka jalani dan hadapi segala yang terjadi dengan penuh pemaknaan.

 

SHARE
Previous articleApakah Cuckold baik dalam Pernikahan?
Next articleAku Masih Kecil Suka Sama Yang Om Om
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.