goodstudio

Bucin adalah sebutan yang sudah nggak awam lagi buat kita ya. Hampir semua orang yang nggak bisa lepas dari yang namanya cinta itu sering disebut bucin, lebih-lebih yang nggak bisa lepas dari hubungan yang toxic. Tapi… sadar nggak sih kalau sikap bucin seseorang itu nggak dateng dengan sendirinya?

Nah dari pada sering ngatain orang lain bucan bucin mulu, yuk kita bahas kenapa sih orang bisa jadi bucin?

Bucin identik dengan kodependen atau adanya pola ketergantungan yang nggak sehat. Seseorang bisa membangun pola ketergantungan yang demikian sebenarnya dibentuk dari pola pengasuhan orang tua. Menurut beberapa penelitian, mereka yang dibesarkan oleh orang tua yang abusive, abai, bahkan terlalu protektif akan cenderung memiliki pola hubungan yang kodependen di masa dewasanya.

Anak-anak yang dibesarkan dari pola asuh over protektif misalnya, secara nggak langsung menanamkan value bahwa mereka adalah makhluk yang lemah dan rapuh sehingga selalu butuh sosok pelindung. Inilah mengapa ada mereka yang sangat takut ditinggalkan atau takut sendiri karena dari dasar dirinya sendiri mereka nggak percaya kalo mereka mampu.

Selain itu, ada juga pola yang otoriter atau kaku dan rigid. Nah pola asuh yang demikian akan membentuk anak menjadi pribadi yang hanya mengikuti perintah. Tanpa adanya perintah mereka akan kehilangan arah. Itulah mengapa ada orang yang rela banget dan bahkan demen didikte ini itu sama pasangannya dan merasa harus punya guide dalam setiap keputusan yang diambil.

Ketika kamu merasa ada di posisi yang demikian, maka sadari bahwa kamu berdaya dan mampu. Mungkin awalnya bagus punya pasangan yang selalu bisa melindungi dan memberikan arahan, tapiiiiii kalau keterusan bisa-bisa kamu sendiri yang jadi toxic dalam hubungan.

Karena sudah terbentuk dari masa kecil, maka untuk memutus pola bucin itu butuh waktu dan proses. Ketergantungan ini bisa menjadi semakin akut ketika mereka sendiri masih denial kalo mereka itu memang bucin. Jadi nggak ada salahnya mengakui kalo misal kamu sekarang ini memang bucin, tapi mengakui disini bukan berarti bangga yah! Namun sebagai fase memutus mata rantai. Sebab proses perubahan itu berawal dari kesadaran.

Maka segera ambil kendali dalam hidupmu dan ciptakan relasi sehat yang setara. Dan jika memang realitanya tak bisa dipaksakan untuk bersama, maka mulailah untuk melepaskan. Agar bisa bebas kita harus melepaskan karena dengan melepaskan maka sama saja dengan melampaui.

SHARE
Previous articleAku Masih Kecil Suka Sama Yang Om Om
Next articleRumah Tangga Merdeka
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.