Illustration: Janet Sung
Illustration: Janet Sung

Masturbasi atau Onani adalah topik pembahasan yang masih banyak pro dan kontra. Nggak heran karena topik pembahasan ini masih dianggap sesuatu yang tabu.

Walau demikian, perihal masturbasi merupakan sesuatu yang normal dalam seksualitas manusia. Selain sebagai salah satu cara untuk meredakan stress, masturbasi juga dilakukan untuk memahami zona kenikmatan atau zona erotik pada tubuh. Banyak sexpert yang menjelaskan bahwa sebenarnya banyak manfaat positif melakukan masturbasi terlepas dilakukan sendiri atau dengan pasangan. Kenyamanan pada tubuh sendiri merupakan salah satu manfaat masturbasi yang bisa meningkatkan penghargaan diri. Saat seseorang sudah kenal betul tubuhnya, tentu akan lebih mudah untuk bisa menyesuaikan dengan seksualitasnya. Sehingga tidak perlu lagi melakukan fake orgasm misalnya karena takut dianggap tidak kompeten dalam hal ranjang. Sebenarnya banyak banget sih manfaat soal masturbasi, baik itu untuk peningkatan kepuasan seksual maupun sebagai terapi seksual. Tapi, perlu diingat ada hal-hal yang mesti dipahami dulu soal masturbasi untuk mendapatkan segudang manfaatnya tersebut.

Ada juga lho orang terjebak pada manfaat semu masturbasi yang justru membuat kualitas hidup menjadi menurun, salah satunya ialah menjadi problem seksual pasutri.

Tak semua pasangan bisa menerima konsep masturbasi sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran atas zona erotis tubuh. Tentu saja komunikasi seksual yang efektif merupakan jembatan untuk menemukan titik persepsi yang sama terkait aktivitas masturbasi. Namun disisi lain, ada juga seseorang yang melakukan masturbasi sebagai cara cepat untuk mendapatkan kepuasan seksual daripada harus melalui beberapa tahapan jika dilakukan dengan pasangan. Udah kebelet, tapi malas jika harus berdebat ini itu.

Sebenarnya bukan soal masturbasinya yang akhirnya menjadi masalah di ranjang, namun bagaimana cara komunikasinya. Ketika persoalan seksual dirasa tidak ada jalan keluar yang bisa diterima kedua belah pihak, maka masturbasi dianggap sebagai jalan pintas. Lebih-lebih jika sudah punya kebiasaan onani sebelum menikah.

Padahal aktivitas ranjang pasutri bukan hanya soal bagaimana bisa mencapai kepuasan seksual secara fisik, yang lebih penting sebenarnya adalah untuk mencapai kepuasan batin. Feel connect dengan pasangan merupakan salah satu dampak positif ketika aktivitas seksual dilakukan berkesadaran, mindful sex istilahnya.

Baca juga: Sisi Lain Masturbasi

Jika pasangan sudah komplain dengan kebiasaan masturbasi atau kamu sendiri merasa sudah nggak sehat karena nggak bisa lepas dari kebiasaan masturbasi, maka alangkah baiknya untuk beri perhatian lebih untuk bisa mulai memodifikasi atau merubah total pola-pola seksual yang selama ini sudah tak lagi efektif.

Saat kamu terlalu sering masturbasi, maka kamu akan sulit untuk bisa menyadari bahwa kenikamatan seksual secara batin itu adalah sesuatu yang butuh proses, bukan sekedar ejakulasi dan orgasme saja. Masih sangat jarang orang yang melakukan masturbasi dengan teknik mindful, sebaliknya mereka yang melakukan masturbasi seringkali menginginkan hasil yang instan, gimana caranya bisa cepat ejakulasi! Jadi bisa dibilang lupa menikmati proses karena terlalu fokus pada hasil.

Saat kamu terlalu sering masturbasi, maka akan terjadi peningkatan sensitivitas pada area genital. Bagi penderita disfungsi seksual ini sangat bagus, tapi sebaliknya efek ini kurang baik bagi mereka yang sehat. Tingkat sensitivitas pada area genital ini juga secara tidak langsung dapat membuatmu menjadi mudah terangsang pada gerakan-gerakan tertentu dan mudah tertrigger saat melihat objek yang menurutmu menggairahkan. Teknik masturbasi yang keliru ternyata berdampak pada penurunan sensasi saat melakukan hubungan intim. Dampaknya tentu saja kamu akan merasa hubungan intim dengan pasangan tidak seenak saat kamu melakukan dengan tanganmu sendiri. Inilah yang akan merusak hubungan romantismu dengan pasangan.

Saat kamu terlalu sering masturbasi, secara tidak langsung akan membentuk suatu pola menjadi self eriented. Manfaat masturbasi memang membuat kita menjadi lebih menyadari soal ketubuhan terkait seksualitas, tapi jika dilakukan dalam kurun waktu yang sangat intensif maka akan membuatmu jadi egois. Kamu hanya memikirkan yang menurutmu enak, tapi tidak dengan pasanganmu. Sehingga kamu akan sulit untuk membangun bonding, lebih-lebih keintiman dengan pasangan.

Saat kamu terlalu sering masturbasi, kamu akan merasa bahwa kamu tidak akan pernah puas. Banyak yang menitik beratkan kepuasan dalam masturasi ketika bisa mencapai orgasme dan ejakulasi dalam kurun waktu yang cepat. Semakin hari maka intensitasnya akan terus meningkat, dampaknya kamu akan sulit merasa cukup. Rasanya selalu kurang, karena kepuasan yang didapatkan sifatnya semu. Berbeda jika kamu melakukan mastubasi dengan teknik mindful, kamu tetap sadar kapan kamu mengatur ritmemu dan kapan kamu merasa berada di titik puncak dan kapan kamu merasa ada sisi tak nyaman saat melakukan masturbasi.

Saat kamu terlalu sering masturbasi, maka kamu akan kehilangan nilai atau value dari aktivitas seksual. Pemaknaan dalam aktivitas ranjang dengan pasangan merupakan salah satu hal yang penting untuk membangun keintiman serta kepuasan dalam relasi. Jatohnya seks hanya jadi sekedar kegiatan rutin yang begitu-begitu aja dan hambar…

Sama halnya dengan makan, masturbasi jika dilakukan secara berlebihan juga akan memberikan kerugian-kerugian. Walau secara fisik tidak memberikan efek yang membahayakan, namun secara psikis dan mental yang membuatmu mengalami berbagai macam problem yang mesti dibantu penyembuhannya oleh profesional.

Lakukan masturbasi sesuai dengan porsinya, lakukan secara cukup dan nikmati setiap prosesnya.

 

SHARE
Previous articleValuable Relationship : Pantaskah Hubungan ini Diperjuangkan ?
Next articleMove On Pasca Perselingkuhan
celotehyori
Diana Mayorita, yang lebih sering dipanggil dengan YORI. Saat ini berprofesi sebagai psikolog klinis yang concern pada issue seks & relationship. Saat ini juga bersama tim sedang mengembangkan sebuah platform digital untuk memudahkan akses layanan psikologi di Indonesia. Selain itu, juga aktif dalam berbagi edukasi psikologi dan seksologi melalui berbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.